Merenungkan Kembali Makna Pembelajaran

.
Oleh Rani Pardini, S.Pd.


Salah satu iklan produk terkenal berbunyi, "Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan". Kita pasti sudah memahami maksud tersiratnya. Tanpa harus kita ciptakan, masa tua akan tiba, tetapi untuk menjadi dewasa kita harus menciptakannya.

BAGAIMANA kita menciptakannya? Tidak lain hanyalah belajar dengan basis kehidupan menjadi dewasa. Artinya, kehidupan ini harus dijadikan materi untuk belajar dari titik keterbatasan tertentu menuju titik kemampuan berikutnya. Sebuah realitas yang tidak bisa dimungkiri bahwa sebagian siswa, mahasiswa, dan kita dulu pergi ke sekolah atau ke kampus, hanya untuk mendapatkan ijazah. Kemudian setelah lulus, mencari pekerjaan. Tujuan mereka belajar selama kurang lebih dua belas tahun bagi lulusan SMA, tujuh belas tahun bagi sarjana S-1, dan seterusnya hanya satu, yakni untuk mencari dan mendapatkan pekerjaan. Itulah yang umum terjadi.

Benarkah pendidikan yang kita tempuh bertahun-tahun hanya untuk mendapatkan sebuah pekerjaan? Kalau hanya untuk mendapatkan pekerjaan, buat apa kita sekolah? Toh yang tidak pernah sekolah saja banyak yang bisa hidup, bahkan mereka lebih sukses dari yang lulusan S-3 sekalipun. Ketika proses belajar berhenti di dunia kerja, berhenti pulalah proses pembelajaran itu sendiri. Kalau bekerja tujuannya hanya untuk mendapatkan sejumlah uang, bisa diartikan belajar kita selama belasan tahun juga demi sejumlah uang.

Dari sini semoga lahir sebuah pemikiran agar lebih bijak dalam memandang tujuan pembelajaran itu sendiri. Jangan sampai keinginan untuk terus belajar terhenti begitu kita keluar dari dunia pendidikan formal karena belajar yang sesungguhnya adalah belajar di "universitas kehidupan".

Dalam banyak kasus, kita sering melihat bahwa banyak orang yang berpendidikan tinggi, bahkan sangat tinggi. Namun tindakannya tidak mencermikan tingkat pendidikannya tersebut. Mungkin, secara intelektual pendidikan seseorang tinggi atau sangat tinggi. Namun jiwanya kosong, nuraninya kering, imannya rapuh, dan hatinya tandus. Hal ini terjadi karena kebanyakan orang terlalu mementingkan pendidikan duniawi, sementara mereka lupa bahwa secara fitrah mereka adalah manusia biasa yang diciptakan Allah selain untuk bekerja juga untuk beribadah. Dengan alasan sibuk bekerja, ia melupakan ibadah. Lambat laun ia menjadi jauh dari agama, kalau tidak mau disebut menjauhkan diri dari agama.

Mari kita renungkan. Sehebat dan setinggi apa pun gelar pendidikan yang kita miliki, itu tidak akan ada nilainya sama sekali ketika jauh dari Allah. Apalagi, ilmu sedikit yang kita miliki menjadi senjata keangkuhan dan kesombongan kita di mata manusia. Nol besar nilainya jika kita hanya mengejar pandangan dan penilaian manusia. Bukankah ilmu yang dilimpahkan Allah kepada seluruh umat manusia itu bagaikan setetes air saja dari ilmu Allah. Mungkin hal itu terjadi karena di dalam sistem pendidikan itu sendiri kurang diajarkan pelajaran atau hal-hal mendasar yang benar-benar berguna di dunia nyata. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan Bill Gould, seorang pakar transformational thinking, "School never teach us how to think, they only teach us what to think."

Jadi, alangkah baiknya bila kita memperbarui tujuan kita menempuh pendidikan, baik formal maupun nonformal, yakni untuk meningkatkan kualitas diri kita. Tidak hanya di hadapan sesama manusia, namun juga di hadapan Allah. Apa pun profesi kita, di tingkat mana pun posisi kita, berapa pun penghasilan kita, dengan akhlak mulia kita akan dapat menjadi rahmat bagi lingkungan di mana pun kita berada. Dengan memahami makna belajar diharapkan kita dapat menjalani hidup dengan penuh sukacita dan tidak didasarkan atas unsur keterpaksaan dan kepasrahan. Apa pun profesi kita, baik yang sesuai dengan latar belakang akademik maupun tidak, kesuksesan kita akan sangat bergantung pada bagaimana kita memahami hal tersebut sebagai suatu proses belajar.***

Penulis, guru matematika SMA KP Cicalengka dan SMA Bina Muda Cicalengka.

[ Pikiran Rakyat, Rabu, 25 Maret 2009 ]
.
.