Peran Guru dalam Mendisiplinkan Anak

.
Oleh Gusgus Rachman

Sebagian orang masih berpendapat, disiplin di sekolah merupakan segala sesuatu yang berkaitkan dengan hukuman dan penghargaan yang diterima siswa di sekolah.

Dengan demikian, siswa akan memandang disiplin itu semata-mata berdasarkan bagaimana guru ataupun sekolah menerapkan dan memberikan hukuman terhadap siswanya yang melanggar aturan, dan menganugerahi siswa yang berprestasi. Akibatnya, siswa akan menghindari melakukan sesuatu hanya agar tidak terkena hukuman. Sebaliknya, siswa berusaha melaksanakan sesuatu semata-mata karena ingin mendapat penghargaan.

Cara pandang yang demikian tentunya tidak salah semuanya. Namun, disiplin yang demikian merupakan disiplin semu dan tidak akan bertahan lama. Apa yang dilakukan dan diperbuat bukan lahir dari kesadaran dan dorongan siswa.

Kedisiplinan siswa yang diharapkan adalah yang lahir dan tumbuh dari dalam diri dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Dengan demikian, disiplin menjadi bagian dari kebutuhan dan kepentingan positif mereka di sekolah maupun luar sekolah, selain menjadi budaya positif bagi mereka.

Arti pentingnya kedisiplinan harus ditanamkan kepada siswa di sekolah, terutama menyangkut kepentingan hasil belajar di sekolah. Siswa sebagai seorang pribadi mempunyai kebutuhan dasar sebagai seorang manusia.

Mereka ingin diperlakukan secara wajar dan proporsional serta ingin dihargai dan diakui keberadaannya. Selain itu, mereka juga memiliki keinginan untuk disayangi, dicintai, di samping membutuhkan rasa aman, senang, dan bangga terhadap pribadi dan sekolahnya. Untuk memenuhi semua kebutuhan siswa tersebut, guru harus dapat berperan, bertindak, dan memosisikan diri kapan dia bisa berperan dan bertindak sebagai pendidik, fasilitator, motivator, mediator, dan peran positif lainnya demi kepentingan dan kemajuan siswanya.

Guru mempunyai kontribusi yang besar dalam menumbuhkan kedisiplinan siswa sehingga mereka dapat belajar untuk menata dirinya dan bertanggung jawab atas apa yang mereka perbuat dengan penuh kesadaran untuk kepentingan positif.

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan guru untuk mewujudkan hal tersebut. Pertama, guru harus berpikir positif kepada siswa. Dengan upaya ini, mereka niscaya dapat menggali potensi dan kemampuan yang ada pada dirinya secara optimal sehingga dapat menunjukkan sikap positifnya.

Kedua, guru harus yakin bahwa siswa bisa diajak bicara dan bekerja sama secara positif untuk mewujudkan suasana disiplin di kelas maupun lingkungan sekolah. Suasana kelas dan sekolah yang nyaman akan membuat kegiatan belajar-mengajar yang kondusif bagi siswa.

Ketiga, guru harus memberikan kepercayaan, tugas, dan tanggung jawab sesuai dengan batas kemampuan siswa. Pemberian tugas dan tanggung jawab yang berlebihan di luar batas kemampuan merupakan salah satu penyebab ketidakdisiplinan siswa.

Keempat, guru dapat menerapkan disiplin dengan menggunakan metode manajemen kelas melalui tahapan perencanaan, tindakan, evaluasi, dan refleksi untuk perbaikan dan penyempurnaan tindakan selanjutnya.

Kelima, guru dapat membuat simulasi semua hal atau perbuatan yang diharapkan dari siswa. Simulasi itu dilakukan secara berulang-ulang sampai siswa paham betul maksud dan tujuan dari apa yang mereka perbuat dengan penuh kesadaran.

Keenam, guru harus memberi kesempatan kepada siswa untuk membuat aturan dan memberi kepercayaan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk menegakkan peraturan yang mereka buat.

Ketujuh, guru harus yakin bahwa semua siswa memiliki keinginan dihormati dan dihargai di depan teman-temannya. Kedelapan, guru senantiasa mengajak siswa mengemukakan gagasan dan saran mengenai perbuatan atau tindakan positif yang bisa mendukung tercapainya keinginan positif, terutama dalam kegiatan belajar-mengajar.

Kesembilan, guru dapat berdiskusi dengan siswa mengenai hal-hal rutin yang dilakukan sehingga menjadi sebuah kebiasaan yang baik. Kesepuluh, guru dalam memberi tugas dan tanggung jawab kepada siswa harus jelas petunjuk, prosedur, dan tahapannya. Kesebelas, guru memberi suri teladan bagi siswanya sehingga menjadi panutan bagi mereka. ***

Penulis, guru SMA Negeri 11 Bandung.

[ Harian Pikiran Rakyat, Kamis, 12 Februari 2009 ]
.
.