Oleh Dra. Teni Sulastri
Perkembangan teknologi tidak meningkatkan semangat dan motivasi untuk belajar dengan sungguh-sungguh karena pemanfaatan teknologi modern yang kurang tepat, hanya terfokus pada "game"-nya.Menurunnya semangat belajar anak akhir-akhir ini sangat kelihatan dari gaya hidup anak sekarang. Berbagai fasilitas sekolah melengkapi anak-anak masa kini, seperti fasilitas kendaraan, komputer, buku-buku pelajaran, juga makanan yang sarat kandungan gizi dan vitaminnya.
Ini berbeda sekali dengan gaya hidup anak-anak zaman dulu. Sedikit kita tengok ke belakang, betapa kuat semangat mereka untuk bersekolah meskipun tidak difasilitasi dengan berbagai kemudahan dan makanan seadanya yang belum tentu mengandung gizi dan vitamin.
Jika dibandingkan dengan anak-anak sekarang, jangankan pergi ke sawah atau ladang kemudian menjual hasil taninya untuk membantu meringankan beban orangtuanya, kewajiban bersekolah saja, dengan ditunjang fasilitas yang ada, tetap saja masih banyak yang malas dan asal-asalan bersekolah. Mereka hanya berseragam demi gengsi, tanpa dibarengi dengan tekad yang kuat di hatinya untuk meraup ilmu pengetahuan demi masa depan yang gemilang penuh tantangan ke depan. Bahkan dari semua kemudahan itu, mereka merasa "dininabobokan". Mereka tidak mau tahu bagaimana susahnya orang tua mencari uang untuk biaya hidup dan biaya sekolah mereka.
Di sisi lain, mereka sangat antusias terhadap kemajuan teknologi modern. Akan tetapi sayang, perhatian terhadap teknologi modern bukan yang bermanfaat, tetapi yang mudaratnya. Mereka bisa menghabiskan waktu beberapa jam hanya untuk bermain CS, PS, Siel, Dota, Friendster, Facebook, dan hal lain.
Memang zaman sekarang kita di tuntut untuk melek teknologi. Secara ekstremnya, buta teknologi di zaman kini sama dengan buta huruf. Hanya saja, anak kita jangan teperdaya atau terlena akan buaian permainan produk teknologi saja sehingga kewajiban mereka sebagai tunas harapan bangsa yang mestinya menggali ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya, jadi menurun. Bahkan, perkembangan teknologi tidak meningkatkan semangat dan motivasi untuk belajar dengan sungguh-sungguh karena pemanfaatan teknologi modern yang kurang tepat. Hanya terfokus pada permainan video game-nya saja, yang membuat anak tidak bisa mengatur waktu, kapan belajar dan kapan bermain.
Berkenaan dengan masalah ini, mari kita simak pemaparan Ketua DPRD Jabar, Drs. H.AM. Ruslan sebagai berikut, "Menunda kesenangan demi visi masa depan amat penting dilakukan mukmin --bahkan semua orang saat ini, dalam derajat dimensi yang berbeda, setiap orang berpotensi digoda oleh kesenangan, kemudahan yang dihadirkan, berbagai teknologi pun kerap kali mendatangkan godaan, sering kali kesenangan sekejap melumat kenikmatan yang abadi." ("PR", September 2008)
Apa yang dipaparkan H.A.M. Ruslan tersebut sangat efektif untuk diterapkan dalam menyikapi penerapan teknologi yang ada. Sementara itu untuk memperbaiki sikap anak di dalam penerapan teknologi, ini merupakan tugas guru, orang tua, masyarakat, bahkan pemerintah. Jangan sampai dibiarkan bagaikan ke mana air mengalir, tetapi harus dikendalikan, apalagi kondisi negara kita sedang terimpit oleh krisis multidimensi. Sebut saja krisis finansial, krisis moral, krisis kultural, bahkan krisis spiritual. Jadi jika dibiarkan seperti ke mana air mengalir tadi, bisa memperparah keadaan.
Akhirnya, marilah kita berjuang bahu-membahu dengan menyingsingkan lengan baju, dalam mempersiapkan generasi bangsa dengan prestasi gemilang yang berhiaskan akhlaqul karimah.***
Penulis, guru IPS SMPN 25 Bandung.
[ Pikiran Rakyat, Kamis, 5 Maret 2009 ]
.
.