Oleh Oom Komisah, S.Pd.
Menghadapi kondisi zaman yang mudah berubah dengan akses informasi global yang tidak terbatas mengakibatkan ketatnya persaingan dalam segala bidang, termasuk ekonomi.Tingkat pengangguran yang tinggi disebabkan jumlah lapangan kerja terbatas sementara pencari kerja terus bertambah tidak sesuai dengan kebutuhan di tempat kerja. Oleh karena itu, diperlukan orang-orang kreatif yang mampu menyiasati kondisi, mampu menemukan berbagai peluang dan jawaban atas berbagai persoalan yang dihadapi.
Orang-orang kreatif selalu mengawali perubahan, dengan menemukan sesuatu yang baru atau menyelesaikan suatu persoalan dengan cara yang belum terpikirkan orang sebelumnya. Dengan kreativitas manusia telah mengubah sejarah dari zaman berburu dan meramu sampai pada kondisi kemajuan teknologi seperi sekarang.
Dengan kreativitas para penemu, manusia sekarang bisa menikmati pesawat terbang, televisi, motor, mobil, dan kemudahan hidup lainnya. Dengan kreativitas pula orang-orang Jepang menemukan inovasi-inovasi baru dengan menciptakan berbagai produk yang membanjiri pasar dunia.
Menurut Munandar (1990), kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang sudah ada atau sudah dikenal sebelumnya. Yaitu semua pengalaman dan pengetahuan yang telah diperoleh seseorang selama hidupnya, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun dari lingkungan masyarakat.
Sekolah sebagai institusi pendidikan dipandang mampu mendorong dan menumbuhkembangkan potensi kreatif yang ada dalam diri anak melalui berbagai kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran yang dapat mendorong proses kreatif anak, di antaranya pembelajaran bermakna. Ausubel menyatakan hal berikut sebagaimana dikutip Bell (1978: 132): "…, dalam pembelajaran, jika seorang siswa ingin mengingat sesuatu tanpa mengaitkan hal yang satu dengan hal yang lain, baik proses maupun hasil pembelajarannya dapat dinyatakan sebagai hafalan dan tidak akan bermakna sama sekali baginya".
Kebalikan dari pembelajaran bermakna adalah belajar hafalan. Dalam belajar hafalan, siswa hanya mengacu pada pencapaian kemampuan ingatan tanpa memahami apa yang dihafalnya. Sedangkan pembelajaran bermakna mengacu pada pemahaman. Sehingga, apa yang di hafalkannya memiliki dasar argumentasi jelas dan hasil pembelajarannya tidak akan mudah hilang dari ingatan siswa, dan akan menjadi pengalaman yang menjadi inspirasi untuk berpikir kreatif.
Selanjutnya, pembelajaran berbasis masalah, yaitu suatu sistem pembelajaran yang menuntut aktivitas mental siswa untuk memahami suatu konsep pembelajaran melalui situasi dan masalah yang disajikan pada awal pembelajaran. Masalah yang disajikan merupakan masalah kehidupan sehari-hari.
Tujuan dari sistem pembelajaran ini untuk mengembangkan kemampuan berpikir anak dan mengembangkan kemampuan dalam memecahkan masalah. Dalam pembelajaran ini, masalah digunakan sebagai media dalam memahami konsep dan prinsip. Solusi dari setiap permasalahan tidak harus satu sehingga merangsang siswa untuk kreatif mencari alternatif jawaban yang lain. Pada pola pembelajaran ini siswa dituntut untuk melakukan pemecahan masalah yang disajikan dengan cara menggali informasi sebanyak-banyaknya. Kemudian, dianalisis dan dicari solusi dari setiap permasalahan tersebut.
Hal-hal lain yang perlu dilakukan untuk merangsang daya kreatif anak di antaranya, pertama, kembangkan rasa ingin tahu anak/imajinasi anak dengan berbagai kegiatan penelitian atau pembuatan karya tulis lainnya, misalnya dengan mengadakan lomba karya tulis antarkelas.
Kedua, budayakan sikap kritis dan berikan stimulus agar siswa banyak bertanya, misalnya dengan diskusi kelompok dalam menyelesaikan suatu tugas atau permasalahan.
Ketiga, biasakan siswa gemar membaca dengan memberikan tugas membaca dari berbagai sumber tentang bahan ajar yang akan disampaikan. Dengan membaca, khazanah pengetahuan siswa akan luas, sehingga akan membantu siswa agar bisa berpikir kreatif.
Penulis, guru pelajaran IPS SMP Negeri 3 Majalengka kelas jauh.
[ Sumber: Pikiran Rakyat, Jumat, 20 Februari 2009 ]
.
.