Melindungi Siswa dari Tayangan Kekerasan

.
Oleh Taufiq Barjah, S.Ag.

Beberapa waktu lalu, media cetak dan elektronik ramai oleh pemberitaan konflik di Jalur Gaza. Kecanggihan teknologi informasi dan telekomunikasi mampu menayangkan berita ini secara langsung. Tidak hanya dikonsumsi orang dewasa, ternyata para siswa yang belum sanggup mencerna berita ini pun dapat dengan mudah menyaksikannya di rumah. Melalui pesawat televisi, mereka dapat dengan leluasa menyaksikan realita yang tidak seharusnya mereka saksikan. Lebih diperparah lagi, tayangan ini disiarkan sepanjang waktu di seluruh stasiun televisi nasional.

Sebagai guru, kita patut mewaspadai realita ini karena ada kecenderungan peristiwa kekerasan yang disaksikan siswa melalui pesawat televisi dianggapnya sebagai tontonan biasa saja. Yang lebih memprihatinkan, cara penyikapan orang tua yang menganggap normal membiarkan anak-anaknya menyaksikan berita kekerasan tersebut.
Tayangan kekerasan dalam bentuk apa pun ada baiknya dijauhkan dari jangkauan anak-anak karena mereka cenderung meniru apa saja yang dilihat secara langsung. Bila lingkungan sekitar siswa memungkinkan untuk mengakses berita-berita kekerasan, perilaku para siswa akan tidak jauh dari apa yang mereka saksikan.

Guru sebagai pihak yang bertanggung jawab untuk mendidik siswanya di sekolah dapat memberikan pemahaman perihal tayangan apa saja yang boleh dan tidak boleh disaksikan para siswa. Guru dapat menugaskan siswanya menuliskan daftar program acara televisi yang biasa mereka tonton. Kemudian guru memberikan penjelasan perihal daftar program acara televisi yang boleh dan tidak boleh ditonton oleh siswa.

Untuk menjauhkan siswa dari perilaku kekerasan, guru dapat menanamkan sifat toleransi dan saling menghargai antarsiswa melalui kegiatan diskusi di kelas. Melalui diskusi ini, siswa dilatih menghargai setiap perbedaan pendapat. Mereka pun harus terbiasa menyelesaikan perbedaan pendapat tersebut melalui argumentasi-argumentasi yang jauh dari sikap kekerasan. Dengan demikian, melalui kegiatan diskusi ini, siswa diajarkan menyelesaikan setiap permasalahan dan perbedaan melalui forum diskusi, bukannya melalui pemaksaan kehendak dan tindak kekerasan.

Namun, seperti kata pepatah, pengalaman adalah guru yang terbaik, di sekolah guru dapat memberikan contoh sikap antikekerasan. Tunjukkan bahwa guru dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang berhubungan dengan siswa jauh dari sikap kekerasan. Menghukum siswa yang melanggar peraturan dapat dilakukan tanpa melakukan kekerasan. Namun, guru dapat menghukumnya dengan cara-cara yang wajar yang dapat mendidik siswa untuk lebih berdisiplin.

Di rumah, siswa merupakan tanggung jawab orang tua. Untuk menghindarkan anaknya menonton tayangan kekerasan, orang tua dapat mengatur program-program televisi yang boleh ditonton dan program yang tidak boleh ditonton. Begitu pula orang tua diimbau untuk selalu mendampingi putra-putri mereka saat menonton televisi, sehingga orang tua dapat memberikan penjelasan perihal acara yang sedang ditonton anaknya.

Melindungi siswa dari tayangan kekerasan tidak hanya tugas orang tua dan guru, tetapi melibatkan pula pihak-pihak yang menayangkan acara berbau kekerasan tersebut. Tentu kita mengharapkan kepada pemerintah pusat dan daerah untuk lebih memperhatikan program-program yang boleh ditonton dan yang tidak boleh ditonton oleh anak. Diperlukan suatu aturan yang jelas dan penegakan hukum yang tegas dalam mengontrol penayangan acara televisi yang berbau kekerasan tersebut.

Kita semua berharap, segala bentuk kekerasan yang ditayangkan di televisi tidak terjadi pada kehidupan nyata. Seperti kata pepatah, buah tidak jauh dari pohonnya. Dengan menonton tayangan yang lebih menekankan pada kasih sayang, diharapkan akan lebih mendekatkan para siswa pada rasa kasih sayang pula.***

Penulis, guru MI dan MTs. At Taufiq Bandung.

[ Pikiran Rakyat, Rabu, 18 Maret 2009 ]
.
.