.
Oleh Aya Sofia Martini
Kita mungkin mendengar cerita, Presiden Amerika Serikat yang baru, Barack Hussein Obama, sewaktu kecil pernah menulis bahwa cita-citanya adalah menjadi seorang presiden.
Sementara pemimpin Partai National Sozialistische (Nazi) Jerman, Adolf Hitler, semasa kecilnya sering diolok-olok karena kelemahannya di berbagai bidang. Suatu hari dia pun pernah mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang Yahudi sehingga dia merasa sangat dendam dan itu terbawa sampai dewasa.
Sejarah membuktikan, setelah dewasa Barack Hussein Obama menjadi seorang presiden dan Adolf Hitler menjadi diktator yang anti-Yahudi. Ternyata pengalaman masa kecil memengaruhi akan jadi apa kita setelah dewasa. Hal inilah yang harus menjadi perhatian orang tua dan guru, bahwa kita harus menanamkan citra positif terhadap anak-anak kita.
Citra positif yang diberikan sejak dini akan menuntun anak pada kesuksesan hidup. Citra positif inilah yang coba dikuatkan melalui Neuro Linguistic Programming (NLP). NLP mungkin sudah tidak asing lagi karena sering diperkenalkan dalam berbagai pelatihan untuk membangun dan meningkatkan motivasi, baik itu di bidang bisnis, pengembangan diri, konseling bahkan di bidang pendidikan dengan tokoh-tokohnya antara lain Agus Sunaryo, Mariana N.G., Tung Desem Waringin, dan Enny Sulistiani.
NLP mempelajari rahasia di balik kesuksesan seseorang untuk dijadikan model. Modeling merupakan metodenya, ditemukan pada 1974 di Amerika tepatnya di University of California, Santa Cruz, oleh Dr. Richard Bandler yang merupakan ahli matematika dan Dr. John Grindler sebagai ahli linguistik
NLP mengajak kita untuk selalu fokus pada cita-cita dengan membangun diri dan lingkungan yang baik. Dimulai dari penguatan konsep diri positif melalui keyakinan bahwa kita dapat meraih apa pun yang kita inginkan dan kita bisa, menetapkan tujuan hidup yang jelas sampai pada bagaimana upaya mencapai tujuan tersebut tanpa adanya perasaan tertekan, stres bahkan depresi. NLP mengajak kita menanamkan keberhasilan di dalam alam bawah sadar kita sehingga menuntun gerak, langkah, pikiran, dan perasaan pada kesuksesan hidup.
Ketika masa ujian tiba, stres akan menghinggapi, baik kepada anak didik, guru, bahkan para orang tua. Stres yang berawal dari ketakutan. Takut tidak lulus, takut nilainya kurang bahkan takut kalah oleh orang lain. Padahal, ternyata ketakutan tersebut besar kemungkinan justru akan menjadi sebuah kenyataan. Fenomena itulah yang disebut Teori Tarik Menarik. Teori ini menjelaskan, apabila kita memikirkan sesuatu, kemungkinan besar apa yang kita fokuskan menjadi kenyataan, baik itu hal yang kita inginkan maupun yang tidak.
Melalui NLP kita akan diajak untuk memahami, alam bawah sadar menguasai 80% bagian besar otak kita dan ternyata tidak bisa membedakan mana hal yang nyata atau khayalan. Berbagai penjelasan menyatakan, pikiran bawah sadar merupakan arsip dari pengalaman dan pemahaman kita sejak lahir dengan tidak melakukan analisis mana yang benar atau salah. Oleh karena itu, orang tua dan guru harus hati-hati dalam memberi perintah atau larangan kepada anak-anak. Sebagai contoh kalau kita berkata, "Jangan menyontek!" yang akan direkam oleh otak hanya kata menyontek, bukan pada kata jangan. Sehingga, kenyataan yang terjadi justru maraknya aksi menyontek. Begitu pula dengan kata "Jangan nakal!" justru akan merangsang anak untuk berperilaku nakal. Jadi, hendaklah orang tua dan guru menggantinya dengan kata-kata positif seperti jangan mencontek diubah dengan kalimat bekerja sendiri/jujur, dan kata-kata jangan nakal diubah dengan kalimat jadilah anak baik. Dengan demikian, otak anak akan mengingat kata-kata jujur dan baik. Wallahu a`lam bissawab.
Dengan peduli kita sudah memaksimalkan kemampuan anak didik secara utuh. Ini berarti kita sudah menjalankan Neuro Linguistic Programming (NLP). Ingatlah, "You are what you think!".***
Penulis, guru history dan civic secondary, Darul Hikam International School.
[ Harian Pikiran Rakyat, Kamis, 29 Januari 2009 ]