Mengembangkan Majalah Elektronik di Sekolah

.
Oleh Adpani, S.Pd.

Perkembangan teknologi begitu pesat, bahkan dalam hitungan hari saja, perkembangan teknologi sangat banyak terjadi.

Tidaklah mengherankan apabila anak usia sekolah dasar sekalipun, sudah amat familier dengan teknologi, terutama teknologi informasi dan komunikasi semisal telefon gengam, laptop, internet, dan sebagainya. Perkembangan ini turut juga memengaruhi pergeseran nilai dan pola di masyarakat, yang nyaris menjangkau semua kalangan, termasuk lembaga pendidikan.

Di sekolah, proses dan metode pembelajaran saat ini sudah banyak memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga sumber pembelajaran pun tidak hanya guru dan buku paket. Internet tampaknya merupakan sumber pembelajaran yang menyediakan informasi dan pengetahuan yang jauh lebih banyak apabila dibandingkan dengan buku paket. Berkembangnya teknologi informasi ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan majalah elektronik.

Sebagaimana telah kita maklumi, pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, hampir semua sekolah memiliki majalah dinding (mading). Adanya mading ini tentu saja merupakan hal yang positif, sebab selain dapat memacu kreativitas siswa, mading juga bisa menjadi sumber informasi bagi warga sekolah.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dapat dijadikan sarana untuk lebih mengembangkan potensi dan kreativitas positif bagi guru dan siswa dengan cara yang mudah, karena internet merupakan hal yang tidak aneh lagi di lingkungan sekolah. Guru dan siswa sudah menjadikan internet sebagai sumber pembelajaran. Istilah-istilah teknologi informasi seperti browsing, e-mail, chatting, dan istilah lain tampaknya sudah sangat akrab, bahkan untuk anak sekolah dasar sekalipun.

Pada perkembangan selanjutnya, internet dimanfaatkan oleh guru maupun siswa tidak hanya untuk mencari informasi, tetapi sudah digunakan untuk menyediakan informasi, terutama informasi yang mendukung proses pembelajaran. Banyak di antara guru dan siswa yang sudah memiliki situs pribadi (blog) yang dimanfaatkan untuk mendukung proses pembelajaran, sehingga informasi dan pengetahuan tidak hanya mengandalkan sumber yang terbatas di dalam kelas.

Adanya majalah dinding di sekolah merupakan hal yang positif untuk mengembangkan kreativitas warga sekolah. Dasar-dasar kreativitas yang terbentuk melalui mading, akan jauh lebih berkembang apabila dikembangkan menjadi majalah elektronik yang dapat dikelola oleh para siswa dengan menggunakan situs blog (weblog).

Tentu banyak keuntungan yang akan didapatkan dari majalah elektronik apabila dibandingkan dengan majalah dinding. Keuntungan-keuntungan tersebut di antaranya, (1) Jangkauan yang jauh lebih luas apabila dibandingkan dengan majalah dinding. Dengan majalah elektronik ini maka informasi yang ditampilkan tentu akan dapat diakses oleh pengguna internet (netter) di seluruh penjuru dunia. (2) Lebih mengakrabkan para siswa dan guru dengan teknologi informasi serta dapat mengarahkan kepada hal-hal yang positif. (3) Dapat dijadikan sarana untuk mempromosikan sekolah, sekaligus memublikasikan informasi yang sifatnya terbuka untuk masyarakat umum. (4) Dapat dijadikan sebagai sarana berkomunikasi antarwarga sekolah, alumni, dan masyarakat umum. (5) Dapat menjadi penyeimbang terhadap dampak negatif teknologi informasi dan komunikasi karena majalah elektronik yang dikelola hanya menyediakan hal-hal yang sifatnya edukatif. (6) Kemudahan untuk mencari sumber atau rujukan dari situs-situs lain dengan cepat dan akurat. Dengan demikian, isi yang dimuat pada majalah elektronik dapat diperbaharui dengan cepat dan informasi yang dimuat pun lebih bersifat aktual.

Beberapa sekolah ada yang sudah mengembangkan majalah elektronik ini, bahkan sudah dikelola dengan baik, dengan sumber daya manusia yang juga baik. Untuk sekolah yang belum mengembangkan, tidak ada salahnya untuk mencoba mewujudkan majalah elektronik ini demi meningkatkan potensi siswa dan guru dalam mengembangkan ide kreatifnya, sekaligus membiasakan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Selamat mencoba! ***

Penulis, guru Madrasah Aliah Pontren Darul Ma’arif Margaasih, Kabupaten Bandung.

[ Harian Pikiran Rakyat, Selasa, 13 Januari 2009 ]
.
.