Dokumen Konggregasi Suci untuk Pendidikan Katolik (1982)
Tentang Awam Katolik di Sekolah: Saksi-Saksi Iman
( Ringkasan )
Pedoman ini menunjukkan beberapa hal penting, antara lain: peran dan tanggungjawab awam Katolik sebagai saksi iman di sekolah di mana mereka mengabdi sebagai pendidik.Menyorot peran dan tanggungjawan awam dalam pendidikan Katolik sebagai sesuatu yang amat penting maka dokumen ini lalu mengemuka dengan beberapa ide pokok berikut:
a) Pendahuluan
b) Identitas Awam Katolik di Sekolah
c) Penghayatan Identitas Pribadi
d) Pendidik Awam Katolik sebagai Guru Agama
e) Pendidikan yang Diperlukan dalam Upaya Meningkatkan Kesaksian Iman di Sekolah
f) Dinamis Mempersiapakan Diri
g) Dukungan Gereha bagi Para Guru Awam Katolik
h) Kesimpulan
Dari kedelapan pokok tersebut dapat dikemukakan beberapa gagasan utama sebagai pegangan bagi kita.
A. Pendahuluan
Peran awam bertambah penting. Konsili Vatikan II menegaskan hal ini dalam Deklarasi Pendidikan Kristen. Dikatakan bahwa para guru awam, bahkan seluruh awam Katolik, pun bukan Katolik dipanggil untuk melaksanakan tugas mulia pendidikan, pada semua jenjangnya, baik sebagai pemimpin, administrator maupun staf pembantu.
Dasar teologis peran awam tersebut terdapat dalam Konstitusi Dogmatis tentang Gereja dan Dekrit Kerasulan Awam. Gereja memberi citra sejati dan pemaknaan positif bagi awam di dalam gereja.
Faktor pendukung meningkatnya peran awam adalah pada sektor umum perkembangan IPTEK membutuhkan profesionalitas, di lain pihak jumlah imam, religius mulai berkurang, ditambah dengan pergeseran pelayanan mereka untuk bidang-bidang lain. Dikataka: Kendati demikian, Gereja tetap berkeyakinan bahwa baik kaum biarawan-biarawati maupun kaum awam Katolik tetap diperlukan di sekolah-sekolah dan secara bersama-sama memberikan pendidikan yang utuh kepada anajk-anak dan kaum muda.
B. Identitas Awam Katolik di Sekolah
Konsili Suci menegaskan bahwa identitas awam Katolik tergambar jelas pada cara mereka memberikan kesaksian iman di dalam gereja. Kesaksian mereka yang khas itu sangat ditopang oleh pengetahuan yang memadai menyangkut hakikat panggilannya secara khusus di sekolah dan juga secara umum dalam konteks sekluruh Umah Allah.
Dipanggil menjadi rasul; Sebagai anggota Umat Allah yang dipersatujan dengan Kristus melalui pembaptisan, guru awam menerima martabat dasar serta mengambil bagoan dalam tugas-tugas imamat, kenabian dan raja dari Kristus. Kerasulan ini merupakan partisipasi dalam tugas penyelamatan Gereja sendiri.
Mereka dipanggil Allah agar sambil menjalankan tugas khasnya dan dibimbing oleh semangat Injil, mereka dapat menyumbangkan pengudusan dunia dari dalam laksana ragi. Dengan demikian, mereka dapay memperkenalkan Kristus kepada orang lain, terutama dengan kesaksian hidupnya yang menyinarkan iman, harapan dan cinta kasih.
Kesaksian khas kaum awam adalah pewartaan injil kepada dunia dalam aneka situasi dalam mana mereka sangat dibutuhkan. Mereka dipanggil untuk secara khusus mengusahakan kehadiran gereha sevafau garama dunia di tengah situasi dan tempat yang terus berubah. Kaim awam Katolik diutus untuk dengan kesaksian hidupnya yang real mewartakan amanat Injil dan menghadirkan Sang Penyelamat dan seluruh Gereja.
Kemampuan khusus kaum awam terletak terutama pada kemampaun mereja mengenal dan menjelaskan tanda-tanda jaman yang memberi ciri khas kepada perioe sejarah Umat Allah saat ini. Maka kiranya mereka menyumbangkan semua prakarsa, kreativitas, dan karya yang menjadi wewenang mereka, secara sadar dan penuh semangat. Dengan demikian, seluruh Umat Allah akan mampu membedakan dengan lebih tepat nilai-nilai Injil dengan nilai-nilai lainj yang bertentangan dengannya.
Panggilan awam di sekolah: Kita sadar bahwa orangtua merupakan pendidikk pertama dan utama dari anak-anak mereka. Hak dan kewajiban mereka di bidang ini asli dan tak tergantikan. Namun dalam menjalan tugas ini mereka membutuhkan sekolah sebagai sarana yang dapat membantu dan melengkapi pelaksanaan tugasnya. Sekolah mempunyai nilai dan kepentingan mendasar. Maka berdasarkan tugas perutusannya, sekolah harus memberikan perhatian yang sungguh-sungguh dan terus-menerus untuk memupuk dalam diri para siswa kemampuan intelektual, kemampuan berkreasi, dan kemampuan estetik manusia dan relasional.
Sekolah : Sekolah merupakan lembaga yang sangat penting yang selama ini dikembangkan oleh masyarakat untuk menanggapi hak setiap orang atas pendidikan, dan dengan demikian memenuhi perkembangan pribadi. Sekolah merupakan salah satu unsur yang menentukan dalam struktur dan kehidupan masyarakat dan berperan positif membantu keluarga-keluarga untuk keluar dari pelbagai masalah yang makin kompleks dewasa ini.
Peran awam Katolik di sekolah : Bagi para Bapa Konsili, setiap orang yang membantu pembentukan manusia utuh adalah seorang pendidik. Guru, yang adalah pendidik, menjadikan usaha membentuk manusia secara utuh sebagai profesi mereka sesuai dengan kelembagaan sekolah.
Isi peran pendidik tidak hanya terbatas pada pengetahuan akademik, melainkan mengkomunikaksikan kebenaran. Ini adalah tugas yang khas dari setiap pendidik Katolik dan hal ini memiliki maknanya yang sangat dalam, bagi pendidik Katolik, segala yang benar adalah partisipasi dalam Kristus yang adalah Kebenaran Sejati. Inilah tugas kenabian para pendidik Katolik yang melekat erat pada profesinya sebagai guru.
Sekolah Katolik menjunjung tinggi nilai martabat manusia. Pribadi manusia dalam konsep Katolik memiliki arti penting karena meliputi pembelaan atas hak-hak asasi manusia, dan penghakuan bahwa setiap pribadi manusia memiliki martabat sebagai Anak Allah. Setiap manusia memiliki kebebasan dan dipanggil kepada kepenuhan cinta kasih dalam Allah.
Kesaksian Awam berarti menjadi model sejati dengan diresapi oleh semangat Injil dan berpusat pada Kristus.
Panggilan para pendidik Katolik berorientasi pada terjadinya integritas diri para pendidik dan peserta didik dalam komunikasi iman kristiani dan kebudayaan.
C. Penghayatan Identitas Pribadi
Menghayati identitas pribadi adalah panggilan setiap orang Katolik, tak terkecuali para pendidik di sekolah. Identitas ini makin nyata tatkala mereka bekerja dengan tekun dan sungguh-sungguh menghayatinya sebagai anugerah Allah. Mereka hanya layak disebut pendidik Katolik kalau mereka sungguh-sungguh bekerja bagi pembangunan sosial dan moral masyarakat. Semua ini dihayatinya sebagai panggilan dalam kesatuan gereja kudus.
Terjadi krisis identitas. Krisis identitas telah menjadi ciri manusia yang hidup dalam dunia yang terus berubah. Baik para pendidik maupun kaum muda yang dimbimbingnya mengalami krisis yang besar. Namun krisis ini akan menjadi peluang untuk mengembangkan diri dan identitas kekatolikan bila disatukan dihayati dalam terang Wahyu ilahi dan ditemukan melalui identifikasi diri dengan Kristus yang tersalib.
Krisis identitas harus dicari jalan keluarnya dalam peningkatan profesionalitas guru pendidik. Maka tuntutan pertama bagi pendidik awam yang ingin menghayati panggilan gerejaninya ialah mendapatkan pendidikan keprofesian yang berbobot.
Sintesis iman dan hidup merupakan sebuah proses positif pembentukan identitas diri setiap orang Katolik. Maka para guru dipanggil untuk menunjukkan sifar positif dari perilaku hidup kristiani yang baik.
Syarat utama agar kesaksian kita dapat dipercaya adalah kesesuaian antara tindakan dan ucapan. Bahkan tindakan jauh lebih penting dari sekedar ucapan kosong. Kenyataan itu menjadi amat penting dalam masa pembentukan kepribadian para siswa. Para pendidik Katolik dipanggil untuk menjadi model pribadi ideal bagi para siswa. Maka sumbangan pendidikan Katolik adalah pembentukan pribadi yang bermartabat dan memiliki moralitas yang tangguh. Hal ini terjadi dalam relasi dialogis yang dibangun di sekolah.
Sekolah Katolik adalah sekolah yang terbuka dan aktif menjalin komunikasi sosio-kultural dan politis pada pelbagai tingkatan dan waktu. Pengenalan akan lingkup sosial menjadi sumber informasi dan pengetahuan bagi para guru dan secara khusus para siswa yang sedang menyiapkan masa depannya dalam dan melalui sekolah Katolik. Maka dibutuhkan kerjasama profesional para guru secara internal dan eksternal.
Awam Katolik lebih menghayati hidup dan karyanya sebagai panggilan dan bukan sekedar profesi. Kehidupan guru Katolik harus ditandai oleh pelaksanaan panggilan pribadi di dalam Gereja dan mengikuti prinsip-prinsip dasar Gereja Katolik. Komitmen pada panggilannya harus menandai kualitas kerjanya. Karena itu sangat diharapkan agar setiap pendidik awam Katolik menyadari sepenuhnya kepentingan, kekayaan dan tanggungjawab dari panggilan itu dan dalam terang Injil ia berkarya bagi kepentingan bersama.
Hubungan dengan Siswa NonKatolik: Sekolah Katolik adalah sekolah yang inklusif sifatnya. Maka sudah barang tentu sekolah ini terbuka bagi siapa saja, siswa dari agama mana pun, bahkan tidak bergama sekalipun. Bagi mereka iman Katolik tetap diwartakan, namun tidak pernah ada paksaan untuk menganutnya. Sekolah Katolik harus menjunjung tinggi kebebasan pribadi setiap siswa dan menghargai perbedaan sebagai sesuatu yang hakiki.
Berpartisipasi dengan gereja lokal dalam dialog dan ketaan kepada Orinaris wilayah. Dengan demikian semakin utuh sekolah Katolik menampilkan kekayaan komunitas Gereja Katolik dan semakin mampu ia memenuhi tugas itu. Di sini dibutuhkan kkerjasama hirarki, religius dan kaum awam.
Ciri inklusif Gereja Katolik memberi warna pada kerasulannya di bidang pendidikan. Maka sekolah Katolik senantiasa perlu membangun komunikasi, dialog dengan instansi profesi dan institusi keagamaan pada umumnya bahkan situasi di mana agama tidak mendapat tempat dan diakui keberadaannya.
D. Pendidik Awam Katolik sebagai Guru Agama
Katekese dan pengajaran agama adalah tugas awam yang khas dalam mengemban kerasulannya di sekolah. Gereja sangat bergantung pada dedikasi dan kerjasama kaum awam di bidang ini. Kebutuhan ini sangat mendesak di gereja-gereja muda yang pada umumnya kekurangan tenaga di bidang katekese dan pendidikan agama Katolik.
E. Pendidikan yang Diperlukan untuk Meningkatkan Kesaksian Iman di Sekolah
Pendidikan dan sekolah Katolik merupakan sarana pengudusan dan kerasulan. Dalam hal ini peran guru awam sangat penting. Ia harus memiliki motivasi iman yang tangguh. Oleh sebab itu maka ptutlah disediakan sentra-sentra pendidikan berjenjang dan pendampingan yang proporsional agar mereka cakap melaksanakan tugasnya.
Para pendidik awam Katolik juga mempunyai hak untuk mengharapkan bahwa dalam menjalankan tugasnya, Gereja, dalam hal ini: para uskup, imam dan biarawan-biarawati, serta semua pihak terkait, membantu mereka akan pemenuhan aneka kebutuhan di dalam bidang pendidikan dan menemukan sarana-sarana untuk mendorong mereka sehingga mereka dapat memberikan diri mereka secara lebih menyeluruh kepada keterlibatan sosial yang diperlukan oleh pendidikan di dalam masyarakat.
F. Dinamis Mempersiapkan Diri
Gereja terbuka pada perubahan jaman agar amanat Yesus Kristus dapat dimengerti dan diterima secara kontekstual dan transformatif. Gereja dalam masyarakat yang serba baru tidaklah statis dengan pola-pola pastoralnya yang lama. Keterbukaan ini menyangkut semua lingkup karya pastoral, maka sudah sepatutnya pendidikan agama Katolik pun perlu membuat penyesuaian-penyesuaian, baik di bidang metodologi pedagogik, maupun sistem nilai. Perubahan dengan pola-pola yang baru ini diharapkan berdampak positif bagi perkembangan kepribadian dan dedikasi para guru awam Katolik.
Keterbukaan terhadap dunia yang terus berubah tidaklah dimaksudkan mengikuti pola hidup baru semata-mata. Perubahan ini berorientasi pada efektivitas perwataan Injil. Para awam Katolik dipanggila untuk menyumbangkan keahlian profesinya, serentak mengintegrasikannya dengan kerasulannya sebagai pewarta kabar gembira Injili.
G. Dukungan Gereja bagi Guru Awam Katolik
Para guru awam Katolik diberi tanggungjawab yang besar dalam bidang pendidikan Katolik di sekolah-sekolah. Mereka harus berbakti sesuai dengan tuntutan profesionalitas di bidang: akademik, moral dan iman. Melaksanakan tugas ini secara konsekuen tidaklah mudah. Seringkali mereka mengalami tekanan-tekanan psikologis, ekonomis, politis, dan lain sebagainya. Oleh karena itu sudah sepatutnya seleuruh Gereja memberikan dukungannya yang pantas bagi mereka. Mereka membutuhkan pendampaingan iman, penghasilan yang proporsional sesuai tugas dan pengabdian dan diperlakukan adil.
Karya guru adalah karya yang terbuka dan melintasi sekat-sekat sosial maka hendaknya mereka mendapat dukungan dan penghargaan yang sepadan dari pihak pimpinan masyarakat dan semua poihak terkait teristimewa keluarga-keluarga yang secara langsung berkepentingan dengan dunia pendidikan.
Bersamaan dengan itu mereka patut mendapatkan kepastian keamanan yang menjamin penyelesaian tugas mereka. Dalam lingkup lebih luas bahkan Konsili Suci mengharapkan agar perundang-undangan kependidikan di tiap-tiap negara hendaknya diinspirasikan dan diwarnai oleh semnagat dan prinsip-prinsip pendidikan Katolik.
H. Kesimpulan
Gereja Katolik bertumpu pada Kaum Awam: Pendidik awam Katolik di sekolah, baik sebagai guru, kepala sekolah, administrator, atau sebagau staf pembantu tidak pernah boleh meragukan fakta bahwa mereka merupakan suatu unsur dari tumpuan harapan besar bagi Gereja. Gereja menaruh kepercayaan kepada mereka untuk mewujudkan secara bertahap perpaduan antara kenyataan duniawi dan Injil. Dengan demikian Injil dapat masuk ke dalam kehidupan semua orang. Lebih khusus lagi Gereja mempercayakan kepada mereka pendidikan manusia seutuhny dan pendidikan iman kaum muda. Kaum muda itulah yang akan menentukan apakah dunia di hari esok makin mendekati atau makin menjauhi Kristus.
Mereka Diundang untuk Menjadi Teman Sekerja dalam Tugas Penyelamatan:
Para guru dan pendidik awam Katolik diundang untuk menjadi rekan sekerja para hirarki dan religius dalam tugas penyelamatan Kristus di dalam gereja melalui karya pendidikan Katolik. Konggregasi Suci memperhatikan sumberdaya Injil yang hebat, yang menjelma dalam berjuta-juta awam yang membaktikan hidupnya kepada sekolah. Dalam konteks itulah Konggregasi Suci ingat akan kata-kata Konsili Vatikan II tentang Kerasulan Awam yang melibatkan secara penuh awam dalam karya penyelamatan Kristus dalam Gereja Kudus.