Bahan Ajar Sesuai dengan Tingkat Berpikir Siswa

.
Oleh Gita Nurul Puspita

Sering kali guru mengembangkan bahan ajar hanya berpatokan kepada satu buku sumber. Kondisi demikian, membuka peluang besar kepada penerbit buku untuk mereguk keuntungan.

Seorang anak perempuan siswa kelas VI, bertanya dengan polos kepada ayahnya sambil membawa buku pelajaran IPA "Ayah, cairan mani itu apa sih? Kata bu guru, kalau anak laki-laki sudah balig, dia bisa mengeluarkan cairan mani. Aku baca di buku juga katanya gitu. "Sang ayah bingung menjawab pertanyaan yang dilontarkan putrinya. Kemudian ia menjawab. "Cairan mani itu cairan yang keluar dari alat kelamin laki-laki". Putrinya menukas. "Oh, jadi cairan mani itu air kencing ya. Kalau gitu sih dari bayi anak laki-laki udah balig, kan dia pipis tiap hari".

Petikan dialog tersebut tidak akan terjadi, seandainya guru menyiapkan bahan ajar dengan baik. Bagi sebagian besar guru, buku pelajaran yang paling baik untuk direkomendasikan kepada siswa adalah buku yang paling lengkap cakupan materinya. Tak aneh, buku pelajaran yang dipilih sebagai pegangan siswa sama dengan buku teks sumber mengajar yang dimiliki guru. Akhirnya, buku tersebut menjadi satu-satunya sumber pertimbangan bagi guru dalam mengembangkan bahan ajar.

Padahal, selayaknya siswa memiliki buku teks pegangan tersendiri yang sesuai dengan kemampuan kognitifnya, bukan sengaja disesuaikan dengan kemampuan kognitif gurunya. Untuk itu, sebelum menentukan buku pelajaran yang tepat bagi siswa, hendaknya guru terlebih dulu mengenali dan mempertimbangkan kondisi siswanya.

Memang, menurut Piaget, dalam buku Piaget`s Cognitive-Stage Theory, anak yang berumur di atas 11 tahun berada pada tahapan perkembangan kognitif operasional formal. Pada tahap ini anak sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal, yang tidak terikat lagi oleh objek-objek bersifat konkret. Akan tetapi, perlu disadari bahwa kemampuan tersebut tidak dapat digeneralisasikan terhadap semua anak.

Saking lengkapnya cakupan materi di buku sumber belajar, seringkali malah membebani kognitif siswa. Akibatnya, kegiatan belajar tidak menjadi aktivitas yang menyenangkan. Untuk itu, guru dituntut memiliki kemampuan mengolah bahan ajar yang handal, agar dapat dipahami siswa dengan mudah.

Perlu dipahami, pikiran siswa tidak bisa dianalogikan sebagai kertas kosong yang dapat ditulisi secara bebas oleh guru. Yakini bahwa siswa yang ada di hadapan guru telah mempunyai pengetahuan awal diperoleh sebagai hasil dari proses belajar sebelumnya. Dalam tahapan ini guru menggali informasi dari siswa, mengenai konsep-konsep penting dari bahan ajar yang akan dikembangkan melalui tanya jawab atau wawancara. Apabila mayoritas siswa telah mempunyai pengetahuan awal yang tepat melalui suatu konsep, maka konsep tersebut tidak perlu diulas dalam bahan ajar sehingga guru dapat beralih pada penyajian lain.

Alokasi waktu pembelajaran pun dapat lebih diefektifkan dan difokuskan untuk mengkaji konsep-konsep yang lebih sulit. Tahapan ini juga hendaknya dioptimalkan oleh guru, untuk mengenali tahapan kognitif dan gaya bahasa siswa sehingga guru tidak mengembangkan bahan ajar yang terlalu sulit untuk dipahami. Keempat, menyusun bahan ajar berupa modul atau lembar kerja siswa untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

Pengembangan bahan ajar yang baik, memang tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Namun, kendala ini dapat disiasati dengan menyusun bahan ajar di awal tahun ajaran baru.***

Penulis, guru IPA SMP Negeri 2 Cimahi.

[ Harian Pikiran Rakyat, Senin, 9 Februari 2009 ]
.
.