Oleh Dyah Putri Ardini
Jika kita tidak meneruskan mata rantai pelestarian budaya tari kepada generasi muda, berarti kita membunuh budaya sebagai identitas negara.Kira-kira itulah yang menjadi bayangan saya tentang seni budaya tari tradisional di Indonesia. Sekadar berbagi pengalaman, di zaman saya sekolah dulu, saya belajar tari tradisional. Adapun tari-tarian tersebut adalah tari kijang, tari merak, bermacam-macam tari Bali, tari rakyat, bahkan sampai ibingan pencak silat. Perasaan saya pada waktu itu, hidup lebih dinamis, sehat jasmani dan rohani, lebih menghargai budaya Indonesia, dan satu lagi yang paling berharga adalah kenangan indah dalam berkesenian. Suasana di sekolah benar-benar terasa sekolah Indonesia.
Dalam tulisan ini, besar harapan saya, Dinas Olahraga dan Pemuda, sekolah, siswa, dan orang tua siswa atau masyarakat untuk mulai mendukung keberadaan pelajaran seni tari di sekolah dengan tenaga pengajar dan kurikulum pembelajarannya. Selain dari alasan saya di atas, semua ini juga sebagai wujud pelestarian budaya, khususnya seni tari. Perlu digarisbawahi, orang tua siswa dan sekolah jangan beranggapan seni tari itu untuk siswa putri saja, tetapi juga untuk putra. Dalam seni tari, tidak hanya gerakan berlenggak-lenggok memamerkan bentuk tubuh dengan gerakan yang erotis. Anggapan itu salah besar, menunjukkan pola pikir sempit terhadap budaya. Tari di Indonesia banyak rumpun dan jenisnya. Tari itu dibagi menjadi empat rumpun yaitu tari topeng, tari keurseus/kursus, tari wayang, dan tari rakyat. Adapun karakter dalam tari tradisional bermacam-macam, yaitu halus, lincah, gagah, danawa (angkara murka), dan lain-lain. Jika dilihat dari rumpun dan karakternya, tentunya tari juga bisa diajarkan di sekolah dan diterapkan kepada siswa putra dan putri. Mereka juga perlu tahu akan budaya tari di Indonesia.
Terus terang, saya salut dengan sekolah di India dan Thailand yang sangat menghargai budaya negara sendiri, dengan mewajibkan adanya pelajaran tari. Alhasil, India dan Thailand terkenal dengan tarianya. Lantas, kenapa pembelajaran sekolah di negara kita kurang memaknainya? Saya yakin jumlah seni tari di Indonesia lebih banyak jika dibandingkan dengan negara yang tadi saya sebutkan. Negara kita ini sangat kaya degan berbagai kebudayaannya.
Ironisnya, sekolah-sekolah di Indonesia sekarang ini marak dengan tren standar nasional dan standar internasional. Sehingga muncul wacana, sekolah di negara kita lebih bangga terhadap ipteknya, bukan dengan budaya Indonesianya. Padahal lebih membanggakan lagi kalau iptek dan pelestarian budaya bisa berjalan seiringan. Sedih sekali bila melihat kondisi seperti ini. Mau jadi apa budaya kita sepuluh tahun ke depan? Tenaga pengajar tari sebenarnya cukup banyak, namun kurang diminati oleh sekolah-sekolah jika dibandingkan dengan tenaga pengajar yang lain, akibat dari pola pikir sempit dan arogan terhadap budaya sendiri.
Sejujurnya, di negara kita usaha dalam pelestarian budaya tidak maksimal. Tetapi ketika diklaim negara lain, ribut bak kebakaran jenggot. Demontrasi pun terjadi di mana-mana. Hey, ke mana saja kalian selama ini? Pengajaran seni tari kurang, minat belajar juga kurang, sungguh menyedihkan.
Kalau bukan generasi muda, siapa lagi yang meneruskan budaya tari ini? Pusat pendidikan adalah sekolah dengan berbagai ilmu-ilmu dan parameternya. Untuk itu, saya kira cara yang paling jitu dalam pelestarian budaya tari adalah diwajibkannya pengajaran tari tradisional sedini mungkin di sekolah. Perkenalkanlah generasi muda kita dengan budaya tari Indonesia, siapkan lahannya di sekolah-sekolah. Jika kita tidak mengajarkan/meneruskan maka mata rantai pelestarian budaya tari kepada generasi muda, berarti kita membunuh budaya sebagai indentitas negara. Wujudkanlah sekolah yang bernuansa Indonesia dengan budayanya karena kita berada di Indonesia, dan saya bangga menjadi bangsa Indonesia yang kaya akan budaya seni tarinya.***
Penulis, guru Seni Tari dan Seni Budaya SMP Negeri 2 Bojong, Purwakarta, Jawa Barat.
[ Sumber: Pikiran Rakyat, Rabu, 4 Maret 2009 ]
.
.