Guru yang Menghargai Waktu

.
Oleh Atep Hasan Sukarna

Ada tiga hal yang tak pernah kita dapat kembalikan, yaitu kata yang telah diucapkan, waktu yang telah berlalu, dan momentum yang diabaikan.

Anis Matta pernah mengungkapkan, "Hidup adalah masa karya. Setiap kita diberi rentang waktu, yang kemudian kita sebut umur, untuk berkarya. Harga hidup kita di mata kebenaran ditentukan oleh kualitas karya kita. Maka sesungguhnya waktu yang `berhak` diklaim sebagai umur kita adalah sebatas waktu yang kita isi dengan karya dan amal. Selain itu, ia bukanlah milikmu."

Waktu adalah momentum masa. Waktu adalah pintu menuju kesuksesan. Siapa saja yang mampu mengisi dan mengambil momentum yang tepat di antara penggalan masa, ia akan meraih kesuksesan. Oleh karena itu, salah satu esensi dan hakikat dari etos kerja adalah cara seseorang menghayati, memahami, dan merasakan betapa berharganya waktu.

Waktu merupakan deposito paling berharga yang dianugerahkan Sang Maha Pencipta secara gratis dan merata kepada setiap orang. Semuanya memperoleh jatah deposito waktu sama, yaitu 60 detik dalam 1 menit, 60 menit dalam 1 jam dan 24 jam sehari atau 1.440 menit atau sama dengan 86.400 detik setiap hari. Jika umur manusia rata-rata 60 tahun, dan menjadikan 8 jam sehari untuk tidur, dalam 60 tahun ia telah tidur 20 tahun. Bagaimana dengan kita sebagai seorang guru? Bergantung kepada masing-masing bagaimana memanfaatkan waktu tersebut.

Untuk dapat mengatur dan menghargai waktu dengan baik, kita harus mengetahui sifat dari aktivitas yang kita jalankan, yaitu pertama, aktivitas yang tidak mendesak tetapi penting. Biasanya untuk bisa masuk ke posisi ini dituntut untuk selalu menjadwalkan setiap kegiatan yang akan dilakukan. Berada di posisi ini menuntut kedisiplinan tinggi dalam melaksanakan setiap kegiatan yang sudah dijadwalkan. Ini bisa dilakukan dengan cara tidak menunda-nunda pekerjaan, berhati-hati terhadap waktu luang, menyempatkan waktu untuk membuat perencanaan, dan melakukan evaluasi serta introspeksi secara objektif.

Kedua, aktivitas yang tidak mendesak dan tidak penting. Posisi waktu ini biasanya dilakukan oleh mereka yang senang membuang-buang waktu secara percuma. Memang kita akan jarang stres bila berada di kuadran ini. Namun, bila terlalu sering berada di kuadran ini, lama-lama kita akan terjebak di kuadran mendesak penting (biangnya stres). Contoh kegiatan di kuadran ini antara lain menggosip dengan teman yang tak bermakna, nongkrong, menonton TV, dan aktivitas lain yang tidak produktif.

Ketiga, aktivitas yang mendesak dan penting. Pada posisi inilah biangnya dari seluruh masalah. Mereka yang berada di posisi ini biasanya tidak pernah menjadwalkan kegiatannya. Di samping itu, mereka juga memiliki kebiasaan menunda dan hobi lembur tugas pada H-1. Posisi inilah yang menyebabkan orang stres. Anehnya, banyak yang tahu akan hal ini tetapi masih saja menjadikannya sebagai hobi.

Keempat, aktivitas yang mendesak dan tidak penting. Kalau yang terakhir ini adalah posisinya orang yang suka mencari masalah dan suka membesar-besarkan masalah. Biasanya hal-hal yang tidak penting akan dibuat seolah-olah sangat penting. Mereka tidak bisa memprioritaskan mana kegiatan yang lebih penting. Tidak tahu mana yang tergolong kebutuhan dan mana yang tergolong keinginan.

Hal di atas dapat memberikan gambaran terhadap posisi kita dalam menghargai dan mengatur waktu yang kita miliki. Apalagi, kita sebagai guru dan pendidik yang setiap saat disibukkan dengan berbagai aktivitas rutin di kelas. Kelihatannya sepele tetapi memiliki pengaruh yang cukup signifikan di kemudian hari.

Mari kita mulai untuk mengatur kehidupan kita dengan sistematis. Bukan berarti kita harus berubah menjadi robot. Lakukan dulu kewajiban kita hingga selesai. Setelah itu kita bebas menikmati waktu luang kita sebagi reward / hadiah. Pepatah mengatakan, "Berakit-rakit ke hulu berenang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian." ***

Penulis, Kepala TK Al-Furqan Pacet, Kabupaten Bandung.

[ Pikiran Ralyat, Jumat, 20 Maret 2009 ]
.
.