Jangan Mengajarkan Kemarahan kepada Siswa

.
Oleh Anang, S.Pd.

Dalam menjalankan tugas keseharian, para guru sering berhadapan dengan kekecewaan yang mengundang kejengkelan dan kedongkolan luar biasa yang muncul dari sikap para siswa.
Dalam keadaan seperti ini, tidak jarang kita terseret dalam situasi yang sulit sekali untuk bisa mengontrol dan mengubah keadaan. Bahkan, jika terus dibiarkan, keadaan ini akan menggiring kita masuk dalam nuansa yang penuh amarah dengan luapan kebencian. Namun, tanpa kita sadari, tak jarang hal ini kita tutup-tutupi dengan dalih bahwa kita sedang menasihati, bukan memarahi. Atau, sering pula kita berkata bahwa semua itu dilakukan karena sayang. Benarkah demikian?

Kenyataan seperti ini tentunya tidak seutuhnya benar. Menasihati tidak berarti memarahi dan begitu pula sebaliknya. Ada kekeliruan yang terasa sudah menjadi lalapan, menasihati adalah memarahi dan sebaliknya. Kenyataan ini terus menjalar ke dalam otak bawah sadar para guru.

Marah adalah reaksi atau respons spontan seseorang terhadap suatu keadaan tertentu sebagai bahasa untuk menunjukkan ketidaksetujuan. Marah bukanlah sesuatu yang buruk. Dalam keadaan tertentu sikap marah perlu ditunjukkan. Namun, jika marah itu melekat dan menjadi sifat sehingga gelar pemarah menempel dalam karakter kita tentunya hal itu menjadi negatif.
Kebiasaan marah tidak jarang dianggap sebagai karakter bawaan yang sepertinya sudah menempel permanen dalam diri kita. Hal inilah yang membuat orang sekitar tidak sungkan untuk memberi gelar "pemarah". Tanpa sadar, kita, baik sebagai pelaku maupun pemerhati, membiarkannya sebagai hal biasa.

Meninggalkan kebiasaan marah seperti ini tidaklah mudah. Di sinilah ujian profesionalisme seorang guru yang sebenarnya. Ia ditantang untuk mampu menunjukkan dan membuktikan kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Hanya, dengan kecerdasan emosi yang kuat kita akan terhindar dari berbagai tindakan yang akan menyeret kita pada kemarahan.
Dalam sebuah cerita dikisahkan bahwa ada seorang siswa yang mengeluhkan kebiasaan marahnya dan meminta sang guru untuk memberikan obat penawarnya. Mendapati hal tersebut sang guru ternyata hanya menawarkan sebungkus paku kepadanya. Dalam keheranan, orang tersebut menanyakan apa yang bisa dia lakukan dengan paku-paku tersebut. Lalu sang guru berpesan, "Lihatlah pohon itu. Setiap kali engkau marah tancapkan satu paku di pohon itu."
Lalu, orang itu beranjak pulang seraya melakukan apa yang dipesankan sang guru. Setiap kali ia marah ia teringat paku itu lalu pergi menuju pohon dan menancapkannya di sana. Akhirnya, paku itu pun habis seiring kemarahan yang ia rasakan. Ia pun menemui sang guru dan meminta paku tambahan.

Pada pertemuan keduanya sang guru berpesan, "Sekarang, setiap kali engkau marah engkau pergi ke pohon yang sama dan cabutlah satu paku."

Lalu, orang itu pun melakukan apa yang dipesankan sang guru. Pada saat semua paku tercabut ia kembali menghadap sang guru untuk meminta petunjuk selanjutnya. Sang guru berkata, "Baiklah. Semua ini sebenarnya pelajaran bagimu. Kemarahan dan amarah yang kamu tumpahkan tidak menampakkan perubahan apa-apa pada dirimu. Tetapi lihatlah batang pohon di sebelah sana. Pertumbuhannya terganggu dengan lubang-lubang bekas paku-paku yang engkau tancapkan padanya. Seperti itulah hati orang-orang yang telah engkau marahi. Dari kejauhan mereka nampak biasa-biasa saja, padahal hati mereka terganggu, berlubang, dan terhina karena kemarahanmu."

Hanya kesadaran akan beratnya akibat yang ditimbulkan oleh kemarahan yang mungkin bisa menjauhkan kita dari kebiasaan marah. Pepatah asing mengatakan a teacher does not teach what he knows, a teacher teaches what he is. Seorang guru tidak mengajarkan apa yang ia tahu, seorang guru mengajarkan siapa dirinya. Tentunya, kita tidak akan mengajarkan kemarahan kepada para murid kita, bukan? ***

Penulis, guru mata pelajaran bahasa Inggris di SMA Negeri 2 Kota Sukabumi, Jawa Barat.

[ Harian Pikiran Rakyat, Sabtu, 24 Januari 2009 ]
.
.