Oleh Doni Koesoema, A
"Untuk memenuhi mandat yang telah diterima oleh Gereja dari pendirinya untuk mewartakan misteri keselamatan bagi semua manusia dan untuk memperbaharui segala sesuatu di dalam Kristus, Bunda Gereja yang Kudus harus memiliki keprihatinan dengan keseluruhan hidup manusia, bahkan bagian dari kehidupan yang sifatnya sekular sejauh hak ini berkaitan dengan panggilan surgawinya. Karena itu, Gereja memiliki peran bagi kemajuan dan perkembangan pendidikan.”".Kebingungan dan kepeningan orang tua untuk mencarikan sekolah bagi anak-anaknya baru mulai justru ketika tahun pelajaran sekolah berakhir. Betapa tidak? Orang tua senantiasa dihadapkan pada pilihan untuk mencarikan sekolah yang terbaik bagi putra putrinya.
Bagi keluarga katolik, rasa “pusing” mendidik anak ini semakin bertambah. Sebagai orang katolik mereka memiliki kewajiban dan tanggungjawab untuk mendidik anak-anak mereka dalam iman katolik. Mendidik dalam iman katolik berarti menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah yang memiliki visi iman kristiani. Sekolah seperti ini biasanya dapat ditemukan dalam sekolah-sekolah katolik. Meskipun kadang ada juga sekolah privat yang tidak dikelola oleh Gereja namun memiliki visi yang sama dengan visi sekolah-sekolah Katolik. Mendengar istilah sekolah katolik, spontan yang terbayang dalam benak orang tua adalah harga yang mahal, serta tebalnya kocek uang uang harus dikeluarkan.
Biaya sekolah memang mahal. Ini tidak dapat kita hindari. Namun, di antara pilihan yang tidak enak, yaitu antara besaran biaya pendidikan dan fungsi strategi sekolah katolik bagi pendidikan iman anak-anak kita, sudah semestinya para keluarga katolik mempercayakan anak-anak didiknya untuk dididik di sekolah katolik. Mengapa?
Kekhasan sekolah katolik
Mungkin banyak diantara kita bertanya, apa sih kekhasan dan kekhususan sekolah katolik? Membangun sebuah sekolah bisa dilakukan oleh siapa saja. Namun membangun sekolah yang bisa disebut sekolah katolik tidak dapat dilakukan oleh setiap orang.
Sekolah katolik adalah lembaga pendidikan yang dipimpin oleh otoritas gerejawi yang berwewenang atau oleh badan hukum gerejawi publik, atau yang diakui demikian oleh otoritas gerejawi melalui dokumen tertulis (KHK 803 § 1). Karena itu, tiada sekolah pun, kendati pada kenyataannya katolik, boleh membawa nama sekolah katolik, kecuali dengan persetujuan otoritas gerejawi yang berwewenang.(KHK 803 § 3).
Dari dua pasal dalam Kitab Hukum Kanonik ini kita bisa melihat bahwa sekolah katolik itu secara eksistensial selalu ada dalam relasinya dengan visi dan misi gereja. Karena itu, ada keterikatan mendalam antara sekolah katolik, baik secara hukum maupun rohani, terhadap hirarki gereja. Maka, tidak setiap sekolah yang memakai nama santo-santa katolik bisa menyebut diri sebagai sekolah katolik jiwa tidak memiliki kewenangan dari otoritas gereja setempat, dalam hal ini Uskup. Karena itu, orang tua katolik mesti bisa membedakan mana sekolah katolik dan mana yang bukan, terutama berdasarkan ikatan legalya dengan gereja setempat.
Namun lebih dari sekedar ikatan legal dengan otoritas gereja setempat, dalam hal ini Uskup, karakteristik mendasar sekolah katolik adalah Kristus sebagai pusat segala tindak pendidikan.
Apa artinya?
Dalam setiap perencanaan pendidikan yang dimiliki sekolah katolik meletakkan kehadiran Kristus sebagai dasar. Sebab dalam diri Kristus manusia memahami dan menghayati eksistensinya secara baru, yang memungkinkannya menghayati hidup secara ilahi, yaitu, dalam berpikir, menghendaki dan bertindak menuruti nasehat injili dan menjadikan Sabda Bahagia sebagai norma bagi kehidupan. Dalam sekolah katolik, prinsip-prinsip injili menjadi norma utama bagi setiap tindakan pendidikan, menjadikannya sebagai motivasi interior tiap individu yang terlibat dalam dunia pendidikan, dan mengarahkan proses pendidikan pada imitatio christi sebagai tujuan akhir pendidikan.
Dengan cara pandang seperti ini, sekolah katolik menyadari dan merasa bertanggungjawab melalui komitmen mereka untuk mempromosikan pertumbuhan manusia secara utuh, sebab dalam Kristus, Manusia sempurna, seluruh nilai-nilai manusiwai menemukan perwujudnyataannya secara penuh, dengan demikian, dalam Kristuslah manusia menemukan kepenuhan dirinya secara utuh.
Dalam dokumen Gravissimum Educationis (1965), secara eksplisit dijelaskan bahwa eksistensi sekolah katolik merupakan realisasi dari mandat yang diberikan Kristus kepada gereja.”Untuk memenuhi mandat yang telah diterima oleh Gereja dari pendirinya untuk mewartakan misteri keselamatan bagi semua manusia dan untuk memperbaharui segala sesuatu di dalam Kristus, Bunda Gereja yang Kudus harus memiliki keprihatinan dengan keseluruhan hidup manusia, bahkan bagian dari kehidupan yang sifatnya sekular sejauh hak ini berkaitan dengan panggilan surgawinya. Karena itu, Gereja memiliki peran bagi kemajuan dan perkembangan pendidikan.”
Bersama dalam misi Gereja
Status sekolah katolik yang demikian ini mewajibkan Gereja sebagai sebuah institusi, dan keluarga-keluarga katolik sebagai pelaku utama bagi pendidikan anak-anak mereka. Dalam ketersediaan sekolah katolik, Gereja mempergunakan haknya untuk mendidik manusia-manusia muda agar semakin sempurna bertumbuh sebagai anak-anak Allah. “Karena semua umat kristiani telah terlahir baru melalui air dan Roh Kudus menjadi ciptaan baru, sehingga mereka dapat disebut dan harus disebut sebagai anak-anak Allah, mereka memiliki hak untuk memperoleh pendidikan kristiani” (GE art 2)
Sebab, dengan pendidikan katolik mereka bukan hanya diajak untuk mematangkan kedewasaan manusiawinya belaka, melainkan, sebagai orang yang telah dibaptis, mereka secara perlahan diperkenalkan pada pengetahuan tentang misteri keselamatan Allah, semakin menyadari rahmat iman yang telah mereka terima, dan mereka juga dapat belajar bagaimana mengabdi Allah dalam Roh dan Kebenaran (Yoh 4:23), khususnya dalam tindakan liturgi, dan membentuk diri pribadi mereka sendiri sebagai manusia baru yang tercipta dalam keadilan dan kekudusan kebenaran (Ef 4:22-24), sehingga mereka semakin bertumbuh secara sempurna seperti kemanusiaan Kristus.
Dalam hal ketersediaan sekolah katolik bagi pendidikan anak-anaknya, Gereja berkewajiban menghadirkan sekolah-sekolah katolik bagi kelanjutan misi dan tugas kerasulannya di dunia ini.
Tanggungjawab Gereja akan misinya ini mesti didukung oleh orang tua kristiani di manapun mereka berada. Hendaknya setiap kaum beriman kristiani mendukung sekolah-sekolah katolik dengan membantu sekuat tenaga dalam mendirikan dan menopang sekolah-sekolah itu.(KHK 800 § 2). Karena itu, kerja sama, keterbukaan dan kerelaan orang tua untuk bersama-sama mendidik anak mereka dalam sekolah katolik semestinya disadari sebagai bagian dari tugas perutusan dan tanggungjawab mereka akan panggilan hidup mereka sebagai orang tua kristiani.
Kita semua ikut bertanggungjawab dan terlibat dalam mandat Kristus untuk memperkenalkan setiap orang akan misteri keselamatan Allah dalam diri Yesus Kristus. Karena itu, Gereja sebagai lembaga dan penerima mandat dari Kristus, penyelenggara pendidikan katolik, dan orang-tua, secara bersama-sama bahu membahu bertanggungjawab demi pembentukan dan pertumbuhan manusia-manusia muda sehingga mereka bertumbuh sempurna dalam iman dan utuh berkembang sebagai manusia selaras dengan gambaran Kristus. Sekolah katolik mahal?
Pusing dan pening yang dialami para orang tua setiap kali mencari sekolah bagi anak-anaknya adalah tentang mahalnya biaya pendidikan. Sekolah katolik itu mahal, begitulah seloroh dan keluhan banyak orang.
Memilih sekolah non-katolik hanya dengan alasan bahwa sekolah katolik adalah mahal merupakan sebuah pilihan yang tidak didasarkan pada kesadaran akan misi dan tugas panggilan kita sebagai orang kristiani. Yang pertama, tentang biaya sebenarnya bisa dinegosiasi. Namun yang kedua, tentang kesadaran bersama akan panggilan illahi untuk mendidik anak dalam iman kristiani, tidaklah dapat dinegosiasi lagi.
Maka, bagaimana cara alternatifnya? Di dalam banyak sekolah katolik biasanya ada subsidi silang. Karena itu, para orang tua yang lebih beruntung semestinya membantu dengan dukungan finansial sehingga sekolah-sekolah katolik tetap dapat menerima dan mengakomodasi setiap anak, terutama mereka yang miskin. Diskriminasi berdasarkan kekuatan ekonomis tidak pernah boleh ada dalam lembaga pendidikan katolik. Jika ini terjadi, sekolah itu, meski secara legal memanggul nama sekolah katolik, mereka telah melepaskan diri dari roh yang semestinya dihayati sebagai sekolah katolik. Sekolah itu memang mahal. Bukan hanya sekolah katolik saja yang mahal, namun sekolah lain, sekolah negeri dll, semuanya mahal. Tidak ada sekolah murah. Karena itu, alasan tidak menyekolahkan anak ke sekolah katolik karena biaya sekolahnya mahal merupakan sebuah alasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara kristiani. Namun demikian, penyelenggara sekolah katolik semestinya berusaha membuat kebijakan yang memungkinkan setiap anak katolik memperoleh akses masuk untuk menjalani pendidikan katolik. Dua hal ini merupakan sebuah tanggungjawab bersama yang mesti dipikul oleh seluruh umat kristiani.
Sekolah katolik, mengapa tidak?
Melihat betapa mendasarnya peranan sekolah katolik bagi pembentukan anak-anak kita, sudah selayaknya para orang tua memiliki tanggungjawab dalam menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah katolik. Pilihan menyekolahkan anak ke sekolah katolik semestinya tidak didasari pada kewajiban dan keharusan sebagai orang beriman katolik, namun semestinya didasari kesadaran bahwa inilah salah satu cara bagi mereka untuk mempertanggungjawabkan panggilan rohani mereka sebagai orang tua bagi perkembangan dan pertumbuhan anak didik mereka.
Hak untuk memperoleh pendidikan terutama adalah hak anak, namun juga hak pertama dan utama bagi orang tua. Orangtua adalah pendidik utama dari anak-anak mereka. Oran tua merupakan individu yang semestinya menciptakan lingkungan dalam keluarga yang dijiwai dengan cinta, rasa hormat pada Allah dan sesama, melalui mana perkembangan dan keutuhan kepribadian dan rasa sosial anak-anak bertumbuh. Merekalah yang bertanggungjawab dalam menentukan pendidikan anak-anak mereka. Karena itu, orang tua yang bertanggungjawab pada pendidikan anak-anaknya akan mencarikan sekolah yang memang mampu membantu perkembangan anak didik bertumbuh dan berkembang sesuai dengan apa yang dihayati oleh
Gereja sebagai misi utamanya, yaitu, mengembangkan kesempurnaan manusiawi seturut teladan Kristus. Sekolah yang memiliki visi seperti ini, yang dapat memuaskan dahaga orang tua akan pendidikan iman anak sebagai perwujudan tanggungjawabnya sebagai oranbg tua dapat ditemukan dalam sekolah-sekolah katolik. Dan memang kehadiran sekolah-sekolah katolik terutama dipertuntukkan sebagai bantuan bagi orang tua dalam menghayati panggilan dan tugasnya sebagai pendidik utama anak-anak mereka.
Karena itu, mengapa Anda ragu-ragu menyekolahkan anak-anak Anda di sekolah katolik? Ya, ke sekolah katolik, mengapa tidak?
[ Majalah Terang, Juli 2007 ]
.
.