.
Oleh Drs. Suleha
Banyak orang besar yang jatuh karena sanjungan, dan banyak orang kecil menjadi besar karena kritikan.
Ibarat pepatah, gajah di pelupuk mata tidak kelihatan, semut di seberang lautan jelas terlihat. Kita susah atau memang tidak mau melihat kesalahan diri sendiri dan yang paling gampang melihat kesalahan orang lain.
Dalam kegiatan pembelajaran, sebagai guru kita lebih memosisikan diri sebagai sosok yang super, serbatahu, merasa lebih kuasa, dan lebih segala-galanya di hadapan siswanya. Sehingga menganggap siswa adalah botol kosong yang tidak memiliki potensi apa-apa. Padahal dalam hal-hal tertentu, bisa jadi siswa lebih dulu tahu tentang suatu materi pembelajaran.
Jika hal ini benar terjadi, maka guru secara demokratis harus siap untuk belajar kembali bahkan belajar dari peserta didik sekalipun sehingga di kelas terjadi saling membelajarkan.
Guru perlu mengorbankan sikap egonya dan mengubah dengan sikap egaliter, sehingga tercipta sistem pembelajaran yang demokratis. Pembelajaran hendaknya dapat memanusiakan peserta didik, dengan demikian diharapkan tumbuh penghargaan dan kewibawaan guru di hadapan siswa karena lahir dari sikap terbuka dan manusiawi guru terhadap siswanya.
Ketika hasil evaluasi pembelajaran ternyata tidak mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM), maka yang pertama kita persalahkan adalah siswa. Kita tidak pernah mau mengevaluasi diri tentang letak kesalahan kegiatan pembelajaran yang kita lakukan.
Idealnya guru, paling tidak satu semester sekali melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) yang akan bermanfaat bagi guru untuk mengembangkan dan melakukan inovasi pembelajaran, pengembangan kurikulum di tingkat kelas, sekaligus meningkatkan profesionalisme guru.
Karena berbagai alasan tertentu, masih banyak guru yang belum melaksanakan kegiatan PTK. Hal ini bisa kita lihat dengan masih banyaknya guru yang mandek kenaikan pangkatnya, dari golongan IVa ke IVb, yang salah satu persyaratannya adalah membuat karya ilmiah berupa laporan PTK. Evaluasi yang dilakukan selama ini baru sebatas dengan sesama guru, belum melibatkan siswa sebagai pengguna jasa guru .
Kini, saat kita telah melewati program kegiatan pembelajaran semester ganjil dan memasuki semester genap, maka saat yang tepat bagi guru untuk melakukan refleksi dalam rangka mengevaluasi kegiatan pembelajaran di kelas.
Ada beberapa hal yang harus dilakukan guru, antara lain:
Pertama, guru harus menyadari bahwa ada masalah dalam kegiatan pembelajaran yang kita lakukan didalam kelas. Guru harus berupaya menyelesaikan dan mencari solusinya, bukan menghindarkan diri dan cenderung menyalahkan pihak lain terutama siswa.
Kedua, guru hendaknya bersama-sama siswa mengevaluasi sekaligus mencari solusi apa yang harus dilakukan siswa dan guru untuk meningkatkan kualitas kegiatan pembelajaran di kelas. Hal ini harus dilakukan bersama karena pada hakikatnya kegiatan pembelajaran adalah kegiatan bersama antara siswa dan guru. Guru harus berbesar hati dan siap menerima masukan dari siswa.
Ketiga, guru bersama siswanya membuat kontrak belajar untuk menentukan metode pembelajaran yang akan dilaksanakan di kelas dan sistem penilaiannya, sehingga pembelajaran akan terasa enjoy dan tidak membebani siswa. Siswa juga dituntut bertanggung jawab terhadap sebuah komitmen.
Keempat, guru harus terus belajar sepanjang hayat, dan senantiasa menyesuaikan kemampuan yang dimilikinya dengan dinamika perubahan dan perkembangan yang demikian cepat yang terjadi di lingkungan masyarakat. Dengan demikian, materi pelajaran yang kita sampaikan, dirasakan siswa menarik, aktual, dan berkaitan dengan kekinian yang dialami siswa dalam kehidupan sehari-hari (contextual learning ). ***
Penulis, guru PKN SMAN 1 Mandirancan Kabupaten Kuningan.
[ Harian Pikiran Rakyat, Senin, 12 Januari 2009 ]
.
.