Mendaur Ulang Eksistensi LPK

.
Tidak ada istilah terlambat untuk memulai adalah ungkapan penghiburan sekaligus terbersit sesal di dalamnya. Pasalnya kesadaran selalu datang agak belakangan. Itulah kesan kental yang mengemuka di tengah-tengah peserta seminar dan workshop "Grand Design Innovation of the Catholic School" (GDICS) di Smearang, 29-31 Oktober 2008 dan menjadikan kegiatan akbar yang pertama dalam sejarah MNPK sangat bermakna.

"Untuk mewujudkan GDCIS secara integral diperlukan adanya redefinisi, reposisi, reorganisasi, restrukturisasi, dan reaktualisasi tentang lembaga pendidikan Katolik. Berarti kita diajak untuk mendaur-ulang tentang eksistensi lembaga pendidikan Katolik, dengan cara merefleksikan tentang daur-hidup lembaga pendidikan Katolik yang diselenggarakan selama ini," kata Ketua Komdik KWI, Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ.

Mgr. Sudarso wanti-wanti bahwa setiap sekolah dengan daur hidupnya masing-masing mempunyai karakteristik masalahnya sendiri-sendiri. Sekolah yang sudah cukup tua (50 – di atas 100 tahun) jika salah mengelola maka akan menghadapi masalah kurang lebih sebagao berikut: tingkat konflik di dalam cenderung tinggi, mengabaikan ide-ide baru. Bahkan ide inovatif bisa ditafsirkan sebagai hal yang terlalu muluk-muluk, dalam banyak aspek cenderung monoton dan terperosok pada rutinitas.

Sementara kondisi sangat berbeda menimpa sebuah lembaga yang sedang menapaki daur hidup yang relatif muda. Pada umumnya lembaga pendidikan baru identik dengan dinamika yang tinggi orang-orang di dalamnya, kerjasama antar SDM sangat tinggi, semangat belajar dan munculnya ide-ide kreatif baru sangat menonjol, masing-masing pihak terbuka terhadap kritik untuk menyempurnakan konsel atau ide-ide baru yang sedang dibangun dalam lembaga tersebut.

Daur hidup yang ideal, tandas Mgr. Sudarso, adalah hadirnya sebuah lembaga yang mampu menggapai kematangan secara terus-menerus. Harapannya, eksistensi pendidikan Katolik mampu mewujudkan tahap ini sehingga tetap terjaga sepanjang masa.

Data-data statistik justru menunjukkan banyak sekolah Katolik sedang berada pada kondisi daur hidup yang cenderung stabil mengarah stagnan. Banyak sekolah justru kondisinya lebih buruk dari itu karena berada pada kondisi tahap penurunan.

Jika sebuah lembaga yang sudah berada pada tahap stabil dan penurunan tidak segera berbenah – meredefinisi, mereposisi, mereorganisasi, merstrukturisasi, dan menghidupinya secara terus-menerus – sebenarnya hanya menunggu bencana datang. Tidak terlalu mengejutkan jika kemudian muncul berita adanya sekolah-sekolah yang dulu pernah berjaya, elit, dan favorit akhirnya harus dilikuidasi karena tidak mempunyai jumlah murid yang memadai.

Sebagai rambu-rambu untuk menghidupkan kembali semangat perubahan do atas setidaknya perlu diperhatikan beberapa aspek perihal filosofi pendidikan Katolik, inovasi kurikulum, pendidikan karakter dan nilai, pendekatan peddagogi refleksi, pendidikan religiusitas, dan sikap kritis terhadap eforia pendidikan bertaraf internasional.

( Sumber: Majalah Educare, Januari 2009 )


***