Oleh Tito Suhendar
Di era seperti sekarang ini, kemampuan tumbuh dan berkembang suatu sekolah sangat ditentukan oleh kemampuannya untuk menarik dan mendapatkan "the best talent".Sekolah yang berhasil adalah sekolah yang menjadi tempat belajar bagi orang-orang dengan potensi terbaik. Sekolah tersebut juga mampu membangun suasana atau lingkungan yang membuat orang-orang terbaik ini dapat mengerahkan dan mengembangkan seluruh potensinya.
Sekolah-sekolah dasar negeri di Indonesia makin lama makin kurang menarik bagi siswa dengan prestasi akademik terbaik untuk berkarya atau mengembangkan potensinya. Dalam menarik lulusan dengan prestasi terbaik, sekolah dasar negeri makin lama makin kalah bersaing dengan sekolah-sekolah milik swasta.
Apabila kecenderungan seperti ini berjalan terus, maka yang akan menjadi siswa di sekolah negeri bukan berasal dari mereka yang termasuk top of the class, namun mereka yang berada di bawahnya. Gejala seperti ini akan berdampak negatif pada usaha peningkatan mutu pendidikan di sekolah-sekolah dasar negeri di Indonesia untuk mencapai tingkat mutu dengan standar international.
Kalau tidak hati-hati, hal ini bisa mengakibatkan terjadinya downward spiral dalam mutu pendidikan di sekolah-sekolah dasar negeri di Indonesia. Makin lama, sekolah dasar negeri menjadi tempat belajar bagi mereka yang peringkat prestasi akademiknya makin lama makin rendah, maka mutu lulusannya pun makin rendah. Apabila hal ini terjadi, maka SD negeri akan kehilangan kredibilitasnya sebagai wadah bagi komunitas yang berada di tingkatan paling dasar dalam pengembangan pengetahuan.
Tidak salah kalau dikatakan bahwa pada umumnya interaksi antara siswa dengan guru, dan antara guru dengan guru lain di SD negeri sangat terbatas. Aktivitas utama para guru adalah mengajar pada waktu yang telah ditentukan pihak sekolah. Di luar itu, guru di SD negeri banyak yang melakukan tugasnya masing-masing, secara sendiri-sendiri. Sekolah dasar negeri belum menunjukkan cirinya sebagai komunitas belajar (learning community).
Dalam komunitas belajar, anggota komunitas yang terdiri atas kepala sekolah, guru, dan siswa tidak hanya belajar sendiri-sendiri namun belajar bersama-sama sebagai sebuah kelompok atau tim. Dalam komunitas belajar ada interaksi dan komunikasi yang intensif antarindividu dengan keahlian dan kompetensi yang berbeda-beda. Interaksi dan komunikasi ini bisa bersifat vertikal atau horizontal. Dalam interaksi ini terjadi proses saling memperkaya antara anggota komunitas, dan dalam proses interaksi terjadi penyebaran pengetahuan, alih pengetahuan, pengembangan pengetahuan, dan penciptaan pengetahuan baru. Dalam komunitas belajar batas kaku antarobjek belajar dan bidang keahlian dicairkan sehingga interaksi menjadi lebih mudah dan terbuka. Dalam komunitas belajar perbedaan atau kebinekaan dilihat sebagai hal yang positif dalam mengembangkan kreativitas.
Dalam komunitas belajar, yang penting bukan hanya hasil belajar, tetapi juga proses dan suasana belajar. Dalam komunitas belajar, seorang siswa adalah anggota komunitas yang perlu dibantu untuk mengambil tanggung jawab aktif dalam proses belajar. Mereka bukan sederetan botol kosong yang menunggu diisi oleh para gurunya. Dalam komunitas belajar, seorang guru bukanlah mesin pengisi botol kosong, namun seorang fasilitator dan pembangun suasana atau budaya belajar, seorang guru bukanlah pengajar membaca, menulis, atau aritmatika, melainkan pengajar anak-anak, di samping dia juga wajib menjadi pembelajar profesional.
Komunitas belajar dapat meningkatkan secara maksimal kapasitas dan efektivitas belajar di suatu sekolah dasar negeri, hal itu terjadi karena berkembangnya sinergi di antara anggota komunitas. Dalam komunitas belajar, kegiatan belajar tidak hanya bersifat transaksional di antara anggota komunitas, namun juga bersifat transformasional dalam arti melalui proses belajar anggota komunitas tumbuh dan berkembang bersama.***
Penulis, guru SD Juara Bandung, Sekolah Unggul dan Gratis Binaan Rumah Zakat Indonesia.
[ Harian Pikiran Rakyat, Jumat, 13 Februari 2009]
.
.