Revolusi Belajar dalam Pembelajaran

.
Oleh Indra Yusuf

Kita sering kali mendapati siswa yang mengeluh karena kesulitan mengikuti suatu pelajaran atau tidak menyenangi kegiatan belajar. Tidak sedikit siswa yang menganggap belajar sebagai sebuah beban.

Jika sudah demikian keadaannya, siswa akan terus mengalami kesulitan untuk menerima pelajaran apa pun. Maka, potensi besar yang sesungguhnya ada dalam diri setiap siswa pun tidak akan tergali secara maksimal.

Sebagai seorang guru yang profesional, kita berkewajiban terus berupaya memotivasi dan menjaga semangat belajar siswanya. Untuk itu, kita perlu mengenalkan sekaligus mengajarkan teknik atau seni belajar kepada siswa. Dengan demikian, nantinya siswa akan enjoy dalam belajar. Karena cara belajar adalah kunci dari kegiatan belajar itu sendiri.

Mengajarkan cara belajar agar dapat menggali potensi yang ada sebenarnya merupakan bagian dari revolusi belajar. Saat ini, revolusi belajar telah banyak diterapkan di berbagai tingkatan sekolah terutama pada beberapa sekolah unggulan. Revolusi belajar sendiri dapat diartikan suatu kegiatan belajar yang memanfaatkan serta menyelaraskan cara kerja otak kiri dan kanan. Karena sebenarnya konsep revolusi belajar didasarkan pada fungsi dan struktur otak manusia. Sebagaimana kita ketahui, manusia dianugerahi otak yang terdiri atas belahan kiri dan kanan atau disebut otak kiri dan otak kanan.

Kedua otak tersebut memiliki karakteristik berbeda. Otak kanan memiliki sifat long term memory atau mampu mengingat dalam jangka waktu lebih lama. Kegiatan otak kanan lebih pada pengolahan informasi yang berupa irama, musik, imajinasi, emosi,warna, gambar dan diagram. Sementara itu, otak kiri yang tergolong short term memory atau mengingat dalam jangka waktu lebih pendek. Otak kiri berkaitan dengan kemampuan verbal, matematis, analitis, sistematis, dan bersifat logis. Aktivitas yang dapat direspons secara baik oleh otak kiri di antaranya membaca, menulis, dan berhitung.

Sebagai contoh yang membuktikan bahwa daya ingat otak kanan lebih panjang dari otak kiri adalah saat guru bertemu dengan muridnya. Guru akan lebih dulu mengenal wajah muridnya dibandingkan dengan namanya.

Adapun revolusi belajar yang dimaksud adalah dengan mengenalkan berbagai macam teknik belajar seperti: bagaimana cara membaca, cara menghafal, serta bagaimana cara berpikir kreatif. Salah satu metode membaca yang baik adalah dengan menggunakan metode SQ3R survei (meninjau), question (bertanya), read (membaca), recite (menuturkan), dan review (mengulang). Selain itu perlu juga memperhatikan tipe modalitas belajar dari masing-masing siswa. Cara mencatat yang baik adalah dengan menggunakan metode Cornell dan mind mapping.

Mencatat dengan metode Cornell, yaitu membagi dua kolom pada buku catatan kita. Kemudian kolom yang lebih kecil digunakan untuk mencatat hal-hal yang sifatnya khusus, seperti bagian materi yang sulit atau mencatat rumus-rumus penting. Metode mind mapping adalah sebuah cara mencatat yang kreatif, efektif, dan mampu memetakan pikiran yang ada dalam diri kita. Sementar itu, cara mengingat dapat menggunakan metode loci, asosiasi, dan chunking.

Loci adalah metode yang menggunakan simbol atau gambar yang berasosiasi dengan pemahaman. Metode ini mengasosiasikan item-item yang ingin diingat dengan tempat atau benda tertentu (spesifik) yang familiar dengan kita. Jadi, kita harus memilih tempat yang dikenal dengan baik. Misalnya, bagian rumah atau kamar.

Maka, kita dapat mengasosiasikan item-item yang ingin kita ingat dengan benda-benda yang ada di kamar. Dengan membayangkan benda-benda tersebut, diharapkan kita mampu mengingat item-item yang sudah diasosiasikan dengan benda-benda tersebut.

Cara berpikir kreatif yakni berpikir dengan sudut pandang yang berbeda dan berpikir optimistis karena semua dapat kita kerjakan. Berkat berpikir kreatif inilah karya dan kesuksesan besar diraih sehingga tidaklah berlebihan jika berpikir kreatif merupakan kunci keberhasilan.***

Penulis, guru SMA Negeri 7 Cirebon.

[ Harian Pikiran Rakyat, Sabtu, 7 Februari 2009 ]