Keteladanan, Pendidikan Tak Lekang Sepanjang Zaman

.
Oleh Usep Saefurohman, S.Pd.

Teladan, merupakan kata yang tidak pernah lekang sepanjang zaman terutama jika diartikan dengan pembinaan dan pendidikan, baik pendidikan keluarga, sekolah, maupun masyarakat secara luas.

ALKISAH di satu sekolah dasar di pedalaman, hiduplah seorang guru yang sangat rajin membantu dan melayani siswanya dengan rasa cinta dan kasih sayang. Bahkan, terdengar desas-desus bahwa sang guru sangat rajin menjenguk ke rumah siswa-siswanya yang sakit. Suatu hari, seorang siswa di sekolah tersebut sedih karena kucing kesayangannya sakit.

Kala itu tidak ada dokter hewan untuk mengobati kucing kesayangannya. Dalam keputusasaannya, ia teringat kepada gurunya yang suka menjenguk siswanya yang sakit. "Jika manusia saja bisa disembuhkan melalui doanya, apalagi cuma seekor kucing," katanya bergumam. Akhirnya, setelah pelajaran usai, si anak menghadap gurunya dan mengutarkan maksudnya agar gurunya menjenguk dan mendoakan, sehingga kucingnya bisa sembuh. Sang guru yang sudah kelelahan karena seharian mengajar merasa sedikit malas memenuhi permintaan si anak.

Timbul rasa enggan dan meremehkan dalam diri sang guru. Keengganan semakin menjadi setelah ia memikirkan kembali kredibilitasnya sebagai seorang guru yang harus menjenguk dan mendoakan seekor kucing piaraan salah seorang muridnya. Akan tetapi, karena panggilan salah seorang siswa di kelasnya, dia pun berangkat bersama sang anak.

Sesampainya di rumah, sang guru pun berdoa dalam sedikit kekesalannya, "Wahai kau kucing, kalau kau mau sembuh, sembuhlah, tapi kalaupun akhirnya kau mati, matilah!" Setelah itu, sang guru pun pulang. Keesokan harinya, kondisi kucing muridnya mulai pulih dan perlahan-lahan sembuh. Muridnya dengan gembira memeluk dan mengucapkan terima kasih kepada sang guru yang telah menyembuhkan kucing dengan doanya.

Selang beberapa hari kemudian, sang guru yang giliran kena sakit. Sang anak ingin sekali membalas budi gurunya yang telah mendoakan kucing kesayangannya hingga sembuh. Sebagai bukti balas budinya, pergilah sang anak tersebut untuk melawat gurunya. Sesampainya di sana, didapati gurunya sedang berbaring lemah di tempat tidur. Si anak pun minta izin untuk mendoakannya, dia pun berdoa, "Wahai Bu guru, kalau kau mau sembuh, sembuhlah! Akan tetapi kalau akhirnya kau mati, matilah!"
**
TELADAN, merupakan kata yang tidak pernah lekang sepanjang zaman terutama jika diartikan dengan pembinaan dan pendidikan, baik pendidikan keluarga, sekolah dan masyarakat secara luas. Keteladanan memiliki kekuatan dahsyat untuk mengubah perilaku seseorang. Teladan juga merupakan kata yang kerap kali mudah diucapkan, namun sangat sulit untuk dilaksanakan.

Verba movent exempla trahunt. Teladan itulah yang menarik hati. Seorang siswa di sekolah banyak belajar dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan, dan apa yang dilakukan. Untuk itu, pendidikan kepribadian sesungguhnya merupakan tuntutan teruatama bagi kalangan pendidik itu sendiri. Sebab, pengetahuan yang baik tentang suatu nilai akan menjadi tidak kredibel ketika gagasan teoretis normatif tidak pernah ditemui dalam praksis kehidupan di sekolah.

Oleh karena itu, tumpuan pendidikan seorang murid ada di pundak para guru. Konsistensi dalam pembelajaran, tidak sekadar melalui apa yang dikatakan melalui pembelajaran di kelas, melainkan tampil juga dalam pribadi sang guru, dalam kehidupan yang nyata di luar kelas. Indikasi adanya keteladanan dalam pendidikan adalah terdapat model peran dalam diri insan pendidik baik itu guru, staf, karyawan, kepala sekolah, direktur, pengurus perpustakaan, dan lain-lain. Secara kelembagaan terdapat contoh dan kebijakan serta perilaku (institutional policy and behavior) yang bisa diteladani siswa. Dengan demikian, apa yang mereka pahami tentang suatu nilai itu memang bukan sesuatu yang jauh dari hidup mereka, melainkan ada dekat dengan mereka. Mereka pun dapat menemukan peneguhan dan afirmasi dalam perilaku individu atau lembaga sebagai manifestasi suatu nilai. ***

Penulis, guru SDIT Bina Muda Cicalengka dan MA Quwatul Iman Pacet.

[ Pikiran Rakyat, Kamis, 19 Maret 2009 ]
.
.