Metode "Mind Map" dalam Pembelajaran

.
Oleh Indra Yusuf

Dalam proses pembelajaran para siswa sering kali dihadapkan pada kesulitan menghafal dan memahami begitu banyak materi pelajaran.

Terlebih lagi saat ini, beban mata pelajaran yang ditanggung siswa sangat banyak. Ditambah adanya faktor tekanan psikologis dalam menghadapi ujian nasional (UN). Tentu sebagai guru profesional, kita harus mengupayakan jalan keluarnya, seperti melakukan inovasi berbagai metode pembelajaran atau teknik mengajar di dalam kelas.

Guru dapat mengenalkan berbagai teknik mencatat, menghafal, ataupun proses berpikir yang kini terus mengalami penyempurnaan. Sudah menjadi kompetensi dan kewajiban seorang guru untuk mampu berinovasi dan mengembangkan metode pembelajaran. Berbagai metode pembelajaran yang terus berkembang di dunia pendidikan hendaknya selalu menjadi bahan referensi bagi guru dalam merancang pembelajaran di dalam kelas. Bagaimanapun metode pembelajaran memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran di kelas demi mencapai tujuan belajar yang diinginkan.

Salah satu metode pembelajaran yang telah terbukti mampu mengoptimalkan hasil belajar adalah metode peta konsep atau disebut mind map. Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Tony Buzan pada awal 1970-an. Hingga saat ini metode yang merupakan implementasi dari radiant thinking adalah metode belajar yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. Di beberapa negara di dunia, penggunaan metode mind map telah diwajibkan bagi mahasiswanya, seperti di AS, Eropa, Afrika Selatan, Meksiko, Singapura, dan negara lainnya.

Dalam bukunya yang berjudul Mind Map untuk Meningkatkan Kreativitas, Tony Buzan (2004) menyatakan, mind map merupakan peranti paling hebat yang dapat membantu otak berpikir secara maksimal. Karena pengorganisasian otak dalam metode mind map terbukti memberikan kemudahan dalam mengatur segala informasi dan hasil pemikiran yang melibatkan cara kerja alami. Ini berarti bahwa upaya untuk mengingat dan menarik kembali informasi di kemudian hari akan lebih mudah. Di samping itu juga lebih dapat diandalkan daripada menggunakan cara pencatatan konvensional.

Mind map sebenarnya adalah suatu sistem grafis yang melibatkan seluruh potensi otak kiri dan otak kanan. Mind map sangat berguna untuk membuka potensi otak yang masih tersembunyi dalam berpikir, belajar, ataupun bekerja. Mind map dapat juga diartikan sebagai cara mencatat yang kreatif, efektif, melalui pemetaan pikiran-pikiran yang ada dalam diri kita, dengan cara menarik, mudah, dan berdayaguna. Mind map sampai saat ini masih dianggap merupakan teknik paling efisien dalam memasukkan, menyimpan, dan memanggil informasi pada otak kita.

Dalam bukunya yang berjudul Mind Map untuk Anak, Tony Buzan penulis sekaligus penemu konsep mind map ini menjelaskan, sebuah mind map dibuat dengan kata-kata, warna, garis dan gambar, yang akan merangsang kerja otak kanan. Selain akan merangsang kerja otak kita, gambar maupun warna memiliki fungsi untuk menarik perhatian mata dan membantu pengelompokkan informasi.

Ketika siswa membuat suatu catatan dengan format standar, yang berupa kata-kata atau angka saja, siswa tersebut hanya menggunakan setengah dari kemampuan potensi otak yang sangat menakjubkan.

Dengan metode mind map tentu akan sangat membantu siswa memanfaatkan potensi kedua belah otak. Karena interaksi yang luar biasa antara kedua belahan otak dapat memicu kreativitas yang memberikan kemudahan dalam proses mengigat dan berpikir.

Dengan telah terbiasanya siswa menggunakan dan mengembangkan potensi dua otaknya, akan dicapai peningkatan beberapa aspek, yaitu konsentrasi, kreativitas, daya ingat, dan pemahaman sehingga siswa dapat mengambil keputusan berkualitas yang tepat.

Dengan demikian, setidaknya salah satu kesulitan siswa dalam proses belajar akan dapat terbantu. Kini, siswa akan lebih mudah dan senang dalam menerima materi pada setiap proses pembelajaran. Akhirnya, diharapkan prestasi hasil belajar siswa pun akan meningkat dan tercapai apa yang menjadi tujuan pembelajaran. ***

Penulis, guru SMA Negeri 7 Cirebon.

[ Harian Pikiran Rakyat, Rabu, 7 Januari 2009 ]
.
.