.
Oleh Septiardi Prasetyo
"Science for all" merupakan sebutan bagi ilmu pengetahuan alam yang bersifat praktis, aplikatif, dan dapat dipelajari oleh semua tingkatan umur. Bersifat praktis, mempelajari "science for all" tidak memerlukan teori-teori atau perhitungan yang rumit.
Sifat yang paling menonjol dari science for all adalah aplikatif sederhana. Untuk mempelajari science for all tidak diperlukan peralatan laboratorium yang canggih atau mahal. Karena objek yang dipelajari selalu berhubungan dengan fenomena alam yang berada di sekitar siswa.
Science for all bukanlah suatu cabang ilmu pengetahuan, tetapi upaya untuk lebih mendekatkan kehidupan kepada ilmu pengetahuan alam. Sebagai pihak yang paling tepat untuk melakukannya adalah sekolah. Di sekolah, siswa mempelajari berbagai disiplin ilmu, termasuk ilmu pengetahuan alam. Namun kecenderungan yang sering terjadi, ilmu pengetahuan alam yang dipelajari hanya sebatas pada hafalan teori dan perhitungan angka-angka yang sulit dimaknai siswa. Dengan demikian, esensi dari mata pelajaran yang dipelajari siswa tidak pernah menyentuh, bahkan tidak bisa dijadikan solusi bagi kehidupan mereka.
Science for all dapat berperan sebagai suplemen bagi pembelajaran ilmu pengetahuan alam. Layaknya suplemen, science for all bukanlah menu utama dalam pembelajaran, tetapi bisa digunakan untuk memperkuat aspek kognitif yang telah dimiliki siswa dan memunculkan indikator-indikator aspek afektif dan psikomotor yang diharapkan muncul pada siswa. Bagi guru, kedua aspek terakhir ini lebih sulit untuk dicapai dan dievaluasi dibandingkan dengan aspek kognitif. Dengan demikian, science for all bisa menjadi alternatif solusi dalam menjawab tantangan kurikulum.
Seperti diketahui, contoh-contoh kasus yang disajikan pada buku ilmu pengetahuan alam masih minim dalam membahas permasalahan yang terdapat di lingkungan sekitar siswa. Contoh kasus hanya seputar peragaaan alat-alat praktikum yang kemungkinan tidak semua sekolah memilikinya. Walaupun tersedia di sekolah, terkadang siswa hanya bisa mengamatinya. Siswa tidak dilibatkan langsung dalam percobaan dengan alasan persediaan alat peraga yang sangat terbatas atau mahal. Tentu hal ini menjadi keprihatinan kita bersama.
Sudah waktunya guru mencari langkah-langkah alternatif yang bersifat praktis, tetapi efisien untuk lebih memopulerkan ilmu pengetahuan alam dalam konteks lingkungan sekitar siswa.
Science for all dapat menjadi jalan pintas yang murah dan mudah dalam memberikan solusi. Semua bahan yang diperlukan untuk membuat produk science for all telah tersedia di sekitar lingkungan siswa. Semua produk science for all merupakan hasil rekayasa kreatif dari bahan-bahan rumahan yang mudah diperoleh. Dari produk tersebut, siswa dapat mendemonstrasikan sebuah fenomena alam dari hasil kreasi mereka sendiri. Tentu hal ini sangat membantu guru dalam mencapai indikator-indikator aspek psikomotor yang diharapkan muncul pada diri siswa.
Untuk mempelajari science for all, siswa tidak perlu pergi ke laboratorium atau museum. Karena, fenomena yang mereka amati tidak pernah lepas dari lingkungan sekitarnya. Siswa diarahkan pada pengertian bahwa lingkungan sekitar mereka--bahkan dalam diri mereka sendiri--merupakan sebuah laboratorium raksasa, suatu tempat berlangsungnya elemen-elemen alam semesta yang setiap hari dan setiap saat selalu dapat diamati dan dijadikan sumber pembelajaran bagi mereka.
Secara tidak sadar, siswa telah mengisi hari-hari mereka dengan pembelajaran melalui science for all. Karena mereka telah mengamati, mempelajari, dan menyimpulkan semua fenomena yang berada di sekitarnya sebagai bagian dari hidup mereka.
Science for all tidak akan mengubah kurikulum yang telah ada, tetapi sebaliknya dapat digunakan sebagai batu pijakan untuk mencapai tujuan dari kurikulum itu. Begitu pun, guru dituntut lebih peka dan kreatif terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul di sekitar siswa. Karena gurulah yang menjadi motor penggerak di sekolah dalam mengarahkan siswanya untuk lebih cerdas dalam menangkap fenomena-fenomena alam di sekitar mereka.***
Penulis, guru di Madrasah Ibtidaiah At-Taufiq, Kelurahan Warung Muncang, Kota Bandung.
[ Harian Pikiran Rakyat, Selasa, 27 Januari 2009 ]
.
.