PTK, Jembatan Guru Menjadi Praktisi dan Peneliti

.
Oleh Nanang Ruhyani

Dengan melaksanakan tahapan-tahapan penelitian tindakan kelas (PTK), guru dapat menemukan solusi dari masalah yang timbul di kelas, dengan menerapkan berbagai ragam teori dan teknik pembelajaran relevan secara kreatif. PTK merupakan suatu penelitian mengangkat masalah-masalah aktual, yang dihadapi guru di kelas. Dengan melaksanakan PTK, guru memiliki peran ganda yaitu sebagai praktisi dan peneliti.

Di Indonesia, PTK baru dikenal akhir dekade ‘80-an. Bagaimana hakikat PTK? Menurut Carr dan Kemmis --seperti yang dikutip-- Siswojo Hardjodipuro dikatakan, PTK adalah suatu bentuk refleksi diri yang dilakukan para partisipan (guru, siswa, atau kepala sekolah) dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran (a) praktik-praktik sosial atau pendidikan yang dilakukan sendiri, (b) pengertian mengenai praktik-praktik ini, dan (c) situasi-situasi tempat praktik-praktik tersebut dilaksanakan (Hardjodipuro, 1997).

Hardjodipuro menjelaskan, PTK adalah suatu pendekatan untuk memperbaiki pendidikan melalui perubahan, dengan mendorong para guru memikirkan praktik mengajarnya sendiri, agar kritis terhadap praktik tersebut, dan agar mau mengubahnya. PTK mendorong guru untuk berani bertindak dan berpikir kritis, dalam mengembangkan teori dan rasional bagi mereka sendiri dan bertanggung jawab mengenai pelaksanaan tugasnya secara professional.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan PTK merupakan suatu kebutuhan bagi guru, untuk meningkatkan profesionalitas seorang guru. Pertama, PTK sangat kondusif untuk membuat guru menjadi peka dan tanggap terhadap dinamika pembelajaran di kelas. Kedua, PTK dapat meningkatkan kinerja guru sehingga menjadi professional. Ketiga, dengan melaksanakan PTK, guru mampu memperbaiki proses pembelajaran melalui suatu kajian yang dalam terhadap masalah terjadi di kelas. Keempat, pelaksanaan PTK tidak mengganggu tugas pokok seorang guru, karena dia tidak perlu meninggalkan kelas. Kelima, dengan melaksanakan PTK, guru menjadi kreatif karena selalu dituntut untuk melakukan upaya-upaya inovasi, sebagai implementasi dan adaptasi berbagai teori dan teknik pembelajaran serta bahan ajar yang dipakainya.

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, jelaslah bahwa dilakukannya PTK adalah agar guru bersedia mengintrospeksi, becermin, merefleksi, dan mengevaluasi dirinya, sehingga kemampuannya sebagai seorang guru diharapkan cukup profesional. Selanjutnya, diharapkan dari peningkatan kemampuan diri tersebut dapat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas anak didiknya, baik dalam aspek penalaran, keterampilan, pengetahuan, hubungan sosial, maupun aspek-aspek lain, yang bermanfaat bagi anak didik menuju kedewasaan.

Dengan melaksanakan PTK, guru berkedudukan sebagai peneliti yang senantiasa bersedia meningkatkan kualitas kemampuan mengajarnya. Upaya peningkatan kualitas tersebut, diharapkan dilakukan secara sistematis, realistis, dan rasional. Selain itu, dengan meneliti semua "aksi"nya di depan kelas, guru mengetahui secara persis kekurangan dan kelebihannya. Apabila di dalam pelaksanaan KBM masih terdapat kekurangan, dia akan bersedia melakukan perubahan, sehingga di dalam kelas tidak terjadi permasalahan. Dengan demikian, KBM akan semakin berkualitas dan dapat meningkatkan kualitas anak didik.

Sebagai paradigma satu penelitian tersendiri, PTK memiliki karakteristik yang relatif agak berbeda jika dibandingkan dengan jenis penelitian yang lain, misalnya penelitian naturalitik, eksperimen, survei, dan analisis isi. Jika dikaitkan dengan jenis penelitian yang lain, PTK dapat dikategorikan sebagai penelitian kualitatif dan eksperimen. Sebab, pada saat data dianalisis, digunakan pendekatan kualitatif, tanpa adanya perhitungan statistik. Selain itu, PTK juga diawali dengan perencanaan, adanya perlakuan terhadap subjek penelitian, dan adanya evaluasi terhadap hasil yang dicapai sesudah adanya tindakan.

Dengan demikian, jelaslah bahwa PTK merupakan suatu jembatan bagi guru untuk menjadi praktisi dan peneliti.***

Penulis, guru SDN Sambongjaya 2, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya.

[ Harian Pikiran Rakyat, Rabu, 28 Januari 2009 ]
.
.