Menebar Jiwa Kemandirian Anak

.
Oleh Dede Suryadi

Pendidikan harus mampu berperan aktif menyiapkan sumber daya manusia terdidik yang mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan baik lokal, regional, nasional, maupun internasional. Ia tidak cukup hanya menguasai teori-teori, tetapi juga mau dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sosial.

BERDASARKAN penelitian empiris, keinginan seseorang untuk terjun dan memilih profesi sebagai seorang wirausahawan didorong oleh beberapa kondisi. Kondisi-kondisi tersebut adalah: (1) orang tersebut lahir dan atau dibesarkan dalam keluarga yang memiliki tradisi yang kuat di bidang usaha (confidence modalities), (2) orang tersebut berada dalam kondisi yang menekan, sehingga tidak ada pilihan lain bagi dirinya selain menjadi wirausahawan (tension modalities), dan (3) seseorang yang memang mempersiapkan diri untuk menjadi wirausahawan (emotion modalities).

Penelitian yang dilakukan oleh McClelland (1961) di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 50% pengusaha yang menjadi sampel penelitiannya (diambil secara acak) berasal dari keluarga pengusaha. Penelitian yang dilakukan oleh Sulasmi (1989) terhadap 22 orang pengusaha wanita di Bandung juga menunjukkan bahwa sekitar 55% pengusaha tersebut memiliki keluarga pengusaha (orang tua, suami, atau saudara pengusaha).

Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh Mu’minah (2001) atas 8 orang pengusaha paling sukses di Pangandaran menunjukkan bahwa semua pengusaha tersebut memulai usahanya karena keterpaksaan.
**
DARI hasil penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat dan di Indonesia, sebagaimana dipaparkan pada awal tulisan ini, mayoritas pengusaha yang sukses berasal dari keluarga dengan tradisi yang kuat di bidang usaha (bisnis). Dengan demikian, dapat digarisbawahi bahwa kultur (budaya) berwirausaha suatu keluarga atau suku atau bahkan bangsa sangat berpengaruh terhadap kemunculan para wirausahawan baru yang tangguh.

Namun demikian, harus digarisbawahi bahwa jiwa kewirausahaan seseorang bukanlah merupakan faktor keturunan, namun dapat dipelajari secara ilmiah dan ditumbuhkan bagi siapa pun juga. Yang penting dan yang utama adalah semangat untuk terus mencoba dan belajar dari pengalaman. Barangkali itulah prinsip yang mestinya digali oleh setiap orang yang ingin berkiprah dalam konsep kewirausahaan ini.

Dalam hal ini juga harus ditekankan bahwa kultur ini tidak dapat ditanamkan dalam sekejap. Harus ada program yang terpadu untuk menanamkan jiwa wirausaha sejak dini kepada anak-anak. Dalam konteks inilah, pendidikan --baik melalui jalur formal di sekolah maupun penanaman nilai-nilai dalam keluarga dan lingkungan terdekat secara informal menjadi sangat relevan dikedepankan. Terlebih dalam kondisi internal dan eksternal di mana beban ekonomi kian mengimpit dan lapangan kerja menjadi sesuatu yang sangat sulit diakses.

Dalam upaya membangun kemandirian sebagai inti dari prinsip kewirausahaan, pendidikan harus mampu berperan aktif dalam menyiapkan sumber daya manusia terdidik yang mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan baik lokal, regional, nasional, maupun internasional. Ia tidak cukup hanya menguasai teori-teori, tetapi juga mau dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sosial. Ia tidak hanya mampu menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku sekolah/kuliah, tetapi juga mampu memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan yang demikian adalah pendidikan yang berorientasi pada pembentukan jiwa entrepreneurship, ialah jiwa keberanian dan kemauan menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar. Jiwa kreatif untuk mencari solusi dan mengatasi problema tersebut, jiwa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Jiwa yang senantiasa percaya diri dalam mengarungi gelombang kehidupan.

Karena itu, selain pemberian materi ajar dengan berbagai teori keilmuan, sesungguhnya menjadi hal penting bagi para guru untuk menularkan "iklim" dan kultur kemandirian kepada siswa-siswi kita. Orang tua di rumah juga harus bisa seiring dengan konsep dan pembelajaran tentang hakikat kemandirian dan kewirausahaan ini. Hal ini diperlukan sebab tantangan global yang dihadapi anak-anak kita di masa depan kian berat. ***

Penulis, guru SMK Negeri 1 Kabupaten Indramayu.

[ Sumber: Pikiran Rakyat, Selasa, 3 Maret 2009 ]
.
.