Oleh Siti Sumarni
Olimpiade bidang matematika, sains, informatika, dan astronomi yang berlangsung setiap tahun pada dasarnya bertujuan memberi kesempatan kepada para siswa untuk berprestasi dan menguji kemampuan dalam bidang iptek.Sebagai salah satu negara yang selalu ikut aktif dalam percaturan dunia, maka keikutsertaan dalam ajang Olimpiade tingkat internasional pun menjadi sebuah keniscayaan. Dalam beberapa tahun terakhir sejak Olimpiade tersebut diselenggarakan, negara kita selalu aktif mengirimkan duta-dutanya ke berbagai negara tujuan.
Ajang Olimpiade yang sudah rutin diikuti setiap tahun adalah bidang matematika melalui Internasional Mathematics Olimpiad (IMO), bidang fisika melalui International Physics Olympiad (IPhO), bidang kimia melalui International Chemistry Olympiad (IChO), bidang biologi melalui International Biology Olyimpiad (IBO),dan bidang informatika melalui International Olympiad in Informatics (IOI).
Prestasi negara kita di tingkat dunia maupun Asia Pasifik terbukti tidak ketinggalan dibandingkan dengan negara lain. Kepulangan para duta bangsa dari berbagai Olimpiade tersebut jarang dengan tangan hampa. Medali emas, perak, perunggu, atau honorable mention (sejenis penghargaan) biasanya menyertai kepulangan mereka.
Sebagai contoh untuk bidang matematika melalui IMO atau Olimpiade Matematika Internasional (OMI). Sejak pertama kali kompetisi ini diselenggarakan tahun 1959 di Rumania sampai tahun 2008, Indonesia telah dua puluh satu kali mengikuti IMO, pertama kali tahun 1988 di Australia sampai dengan tahun lalu pada IMO ke-49 di Granada Spanyol.
Ketika mengikuti IMO ke-44 tahun 2003 di Tokyo Jepang, delegasi Indonesia menyabet 2 perunggu atas nama Fajar Yuliawan (SMAN 1 Surakarta), dan Septian Hartono (SMAK 1 BPK Penabur Jakarta), serta 4 honorable mention atas nama Guntur Sunardi (SMAK Kolase St.Yusuf Malang) Frastudy Pamungkas Fauzi (SMAK 1 Mataram, NTB), Fery Valerian. Harjito (SMAK St. Aloysius 1 Bandung), dan Wahyu Perdana (SMAK 1 BPK Penabur, Jakarta).
Tentu saja kecerdasan intelektual para juara Olimpiade yang tidak diragukan lagi itu, ikut menjamin masa depan pendidikan mereka yang gemilang. Saat ini (mungkin juga mereka telah selesai studinya), Fajar Yuliawan adalah alumnus Teknik Informatika ITB, Ferry V. Harjito alumnus Fak.Kedokteran UNPAD, Septian Hartono dan Guntur Sunardi alumnus NTU Singapura, dan Frastudy Pamungkas Fauzi alumnus Ilmu Komputer UI (Sumber: Depdiknas).
Informasi keberhasilan negara kita di berbagai ajang Olimpiade tingkat dunia serta keberhasilan studi para mantan pesertanya menjadi motivasi bagi para siswa peserta seleksi Olimpiade di tingkat sekolah. Pasalnya, untuk terpilih menjadi delegasi Olimpiade di tingkat internasional para siswa harus bergerak merangkak mulai dari tingkat sekolah, kabupaten/kota, provinsi, hingga tingkat nasional.
Berdasarkan informasi tersebut para siswa menjadi tertarik sehingga mereka berminat mengikuti seleksi di tingkat sekolah. Banyaknya peminat inilah yang membangkitkan semangat penulis selaku pembimbing Olimpiade matematika di tingkat sekolah untuk membimbing mereka dengan penuh kesabaran meskipun diakui tingkat kesulitan soal-soal Olimpiade jauh melebihi tingkat kesulitan soal-soal Ujian Nasional atau soal-soal masuk perguruan tinggi. Hal ini tidak menjadi penghalang sebab sekarang ini soal-soal dan pembahasan Olimpiade mudah diperoleh dari buku-buku maupun internet.
Kegiatan Olimpiade tahunan kini menjadi kebijakan pemerintah (Depdiknas) yang harus dilaksanakan mulai tingkat sekolah hingga tingkat nasional, demi menjaring bibit-bibit unggul yang akan menjadi duta-duta bangsa menuju pentas Olimpiade di tingkat internasional. Melalui bimbingan dan pembinaan yang intensif bukan mustahil bibit unggul tersebut akan ditemukan di sekolah kita.***
Penulis, guru matematika SMAN 2 Tarogong Kidul Garut.
[ Pikiran Rakyat, Senin, 23 Februari 2009 ]
.
.