Belajar Bahasa Indonesia yang Menyenangkan

.
Oleh Lina Fera Herliana, S.Pd.

Selama ini, banyak siswa di sekolah menganggap pelajaran bahasa dan sastra Indonesia membosankan dan tidak menarik.

Salah satu penyebabnya adalah guru-guru yang belum mengembangkan kreativitasnya untuk menciptakan dan memanfaatkan bahan ajar. Siswa cenderung dijadikan objek pembelajaran dan guru sebagai subjeknya, serta guru yang kurang menyukai sastra.
Berikut adalah beberapa upaya penggalian potensi siswa dalam mengajarkan bahasa dan sastra Indonesia.

1. Mengadakan lomba mading tingkat SMP se-Bandung Raya yang dimaksudkan untuk meningkatkan kreativitas seni, khususnya apresiasi sastra.

2. Membimbing siswa mengikuti berbagai perlombaan yang berhubungan dengan mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Dari hasil perlombaan, siswa lebih mendalami sastra dan lebih menambah rasa percaya diri mereka untuk tampil di depan umum.

3. Membawa siswa ke ruang multimedia. Guru dapat mengakses dan mengolah informasi dari media elektronik dalam bentuk powerpoint dengan tambahan animasi. Kemudian menerapkannya dalam proses pembelajaran. Selain itu, dalam kegiatan pembelajaran, diberikan tugas kelompok dengan pokok bahasan tertentu yang sesuai dengan silabus. Setiap pertemuan, tampil satu kelompok untuk mempresentasikan laporannya. Aktivitas siswa di kelas tampak sangat dominan. Mereka menyampaikan melalui perangkat multimedia proyektor (MMP) sehingga terpampang uraian materi yang lengkap diselingi dengan gambar-gambar dan suara.

4. Siswa ditugaskan untuk membuat naskah drama yang temanya ditentukan oleh mereka sendiri. Setiap pertemuan, tampil satu kelompok untuk mementaskan pertunjukan drama. Pertunjukan mereka selain dinilai oleh guru bahasa Indonesia, juga dinilai oleh teman-teman mereka.

Ada juga di antara mereka yang mengumpulkan tugas dalam bentuk CD (cakram padat) dan diputar di ruang multimedia. Kegiatan tersebut diakhiri dengan diskusi dan tanya jawab yang disaksikan juga oleh guru bahasa Indonesia dan kepala sekolah. Hal ini melatih siswa menyukai sastra dan menambah kecintaan anak didik terhadap mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Di sini betul-betul siswalah yang aktif menemukan sesuatu berdasarkan pengalaman yang dialami sendiri. Guru hanya berperan sebagai fasilitator dan untuk mencari penguatan materi, dengan cara membenahi atau menjelaskan kekurangan yang diperoleh siswa.

5. Menonton pertunjukan bernuansa sastra. Di akhir pertunjukan, bisa dilakukan tanya jawab langsung dengan sutradara. Hal ini dimaksudkan untuk lebih menambah kecintaan para siswa dalam mengapresiasi suatu pertunjukan.

6. Selain dalam kelas, guru juga bekerja sama dengan OSIS, mengadakan kegiatan yang meningkatkan apresiasi sastra, misalnya pada acara perpisahan, serta pembacaan puisi dan musikalisasi puisi pada hari-hari besar agama.

7. Menugaskan para siswa mencari puisi karya penyair terkenal, lalu mereka mengubah menjadi lirik lagu yang diiringi musik. Kegiatan itu dikenal dengan nama musikalisasi puisi.

Kegiatan ini menjadikan proses pembelajaran berkembang menjadi sangat menarik, meskipun hanya dengan menggunakan media dari barang bekas.

8. Siswa ditugaskan membaca cerpen yang sudah ditentukan. Cerpen disajikan sebagian. Siswa kemudian disuruh melanjutkan cerpen sesuai dengan keinginan imajinasi mereka. Sambil menulis lanjutan isi cerpen, diperdengarkan alunan lagu klasik implora. Kemudian guru mempersilakan siswa untuk meneruskan isi cerpen yang dibacakan di depan kelas. Teman-teman yang lain memberi komentar. Kegiatan ini melatih daya imajinasi siswa.

Metode tersebut dapat meningkatkan kemampuan belajar siswa. Bentuk-bentuk pembelajaran lebih bervariasi. Dengan demikian, anggapan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia membosankan dan tidak menarik, lama-kelamaan akan terkikis.***

Penulis, guru bahasa dan sastra Indonesia SMAN 18 Bandung.

[ Pikiran Rakyat, Selasa, 17 Maret 2009 ]
.
.