Prinsip SMART dalam Penyusunan PTK

.
Oleh Siti Sumarni, S.Pd.

Umumnya guru-guru golongan IV-a yang hendak naik pangkat terhambat karena sulit memenuhi persyaratan wajib angka kredit dari kegiatan pengembangan profesi minimal 12. Peluang bagi guru golongan IV-a yang telah memenuhi syarat untuk diusulkan kenaikan pangkatnya sebenarnya cukup terbuka. Namun kenyataannya, hampir di tiap sekolah, guru-guru dengan golongan tersebut yang masa kerja golongannya telah cukup lama--bahkan ada yang lebih dari 10 tahun--tetap berkutat di golongan tersebut karena berbagai kendala yang menyertainya.

Saat ini bagi guru-guru yang bermasalah dengan kenaikan pangkat tersebut ditawarkan solusi paling praktis untuk memenuhi kewajiban kegiatan pengembangan profesinya melalui penyusunan karya tulis ilmiah (KTI) di bidang pendidikan melalui penelitian tindakan kelas (PTK) atau classroom action research (CAR).

Menurut Cross (1986), penelitian tindakan kelas atau PTK merupakan penutup jurang pemisah antara penelitian (yang umumnya bersifat umum) dengan praktik pendidikan (persoalan-persoalan praktis yang dihadapi guru), sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan peningkatan kualitas kegiatan belajar-mengajar di kelas.

Dalam menyusun PTK, sangat dianjurkan untuk terjadinya kolaborasi antara semua komponen yang ada di sekolah, agar terjalin kerja sama dan saling memotivasi satu sama lain. Alangkah baiknya jika kepala sekolah terlibat langsung ikut memberi motivasi dan memfasilitasi keperluan guru, jika perlu melibatkan pengawas sebagai narasumber.

Sebenarnya tidak ada yang sulit dalam mengerjakan PTK ini, karena hanya memerlukan keuletan, kegigihan, konsentrasi, dan kesungguhan dalam mewujudkannya. Pasalnya, objek permasalahan penelitian yang dihadapi tidak jauh, yakni kelas-kelas yang menjadi tugas keseharian guru. Jadi, selama PTK berlangsung, tidak boleh mengganggu proses pembelajaran dan tugas mengajar.

Banyak buku yang dapat dijadikan pedoman dalam menyusun PTK sebagai acuan dan bahan diskusi, di antaranya adalah buku berjudul Penelitian Tindakan Kelas (2008) karya Prof. Suharsimi Arikunto dkk. Isinya menjelaskan secara terperinci dan praktis tentang tata cara penyusunan PTK berikut contoh-contohnya. Karena para penulis adalah tim yang kompeten dalam bidang penilaian angka kredit pengembangan profesi, buku tersebut sangat tepat untuk dijadikan salah satu acuan.

Salah satu saran yang dianjurkan dalam merencanakan PTK, menurut Prof. Suharsimi, yakni memperhatikan apa yang disebut dengan SMART yang merupakan singkatan lima huruf bermakna, yakni specific artinya khusus, tidak terlalu umum atau terlalu luas. Misalnya melakukan penelitian untuk pelajaran bahasa Indonesia, yang diteliti sebaiknya satu aspek saja, apakah aspek berbicara, membaca, mendengarkan, atau menulis. Dengan demikian, langkah dan hasilnya pun akan lebih jelas karena spesifik.

Yang kedua, managable, artinya mudah dilaksanakan sesuai dengan kemampuan guru dan keadaan siswa, termasuk juga keadaan sarana dan prasarana yang lain. Selanjutnya, acceptable, artinya dapat diterima oleh subjek yang akan dikenai tindakan, siswa tidak mengeluh gara-gara guru memberikan tindakan, demikian juga lingkungan tidak terganggu. Agar kegiatan ini dapat diterima siswa, sebaiknya guru berbicara terlebih dahulu dengan siswa yang akan dikenai tindakan agar mereka tidak merasa terpaksa serta memiliki kesiapan.

Selanjutnya, realistic, artinya tidak menyimpang dari kenyataan dan jelas bermanfaat bagi guru itu sendiri, dan terutama bermanfaat bagi siswa. Terakhir adalah time-bound, artinya diikat oleh waktu. Tindakan tersebut terencana dan sudah tertentu jangka waktunya, yakni kapan memulai, kapan dilihat hasilnya, dan kapan pula dilakukan refleksi.

Sekali lagi, yang paling penting adalah niat untuk memulai, disertai kegigihan dan sikap pantang menyerah dalam mewujudkannya. Pengalaman membuktikan, meskipun kita harus bolak-balik menghadap tim penilai, toh pada dasarnya untuk penyempurnaan. Dengan demikian, akhirnya karya tulis ilmiah (KTI) penelitian tindakan kelas (PTK) kita dapat lolos dan layak dinilai. Selamat mencoba!***

Penulis, guru SMA Negeri 2 Tarogong Kidul Garut.

[ Harian Pikiran Rakyat, Rabu, 21 Januari 2009 ]
.
.